BANJARBARU-Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Selatan dalam beberapa waktu terakhir telah menyebabkan semakin memburuknya kualitas udara, khususnya di wilayah Kota Banjarbaru dan sekitarnya. Tujuh helikopter water bombing kini dikerahkan bantu pemadaman Karhutla di Kalsel.
Data Stasiun Klimatologi Kalsel, dalam tiga hari terakhir kualitas udara kian memburuk akibat kabut asap. Pada Sabtu (29/8) konsentrasi PM2.5 mengalami peningkatan yang sangat signifikan pada dini hari dan terus melonjak hingga pagi hari. Puncak konsentrasi tercatat pada pukul 07.00 wita mencapai 612,7 µg/m³ yang masuk dalam kategori Berbahaya.
Sehari sebelumnya PM2.5 tercatat mencapai angka 356,7 µg/m³ yang juga masuk dalam kategori Berbahaya. Kondisi ini menyebabkan terjadinya penundaan (delay) empat keberangkatan dan satu kedatangan jadwal penerbangan pagi hari. Pihak Bandara Syamsudin Noor dalam Media Statement menyebut penerbangan kembali normal pada pukul 10.00 wita.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, Diauddin mengatakan hingga saat ini tercatat sekitar 46.000 kasus ISPA, dengan rata-rata mencapai sekitar 7.600 kasus per minggu di Kalsel, dengan daerah terbanyak Kota Banjarbaru, Banjarmasin dan Kabupaten Banjar.
“Sebagian besar kasus ISPA masih dapat ditangani di tingkat puskesmas dan tidak sampai membutuhkan rujukan ke rumah sakit. Dinkes Kalsel terus melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan kabupaten/kota untuk meningkatkan kesiapsiagaan puskesmas, termasuk memastikan ketersediaan oksigen, masker, serta tenaga medis,” ungkap Diauddin.
Di sisi lain, edukasi kepada masyarakat juga terus digencarkan, terutama di sekolah-sekolah dan pondok pesantren. Petugas kesehatan sekaligus memberikan pelayanan bagi masyarakat yang terdampak serta membagikan masker.
Sementara Gubernur Kalsel, Muhidin dalam peninjauan lapangan kondisi Karhutla di areal ring satu Bandara Syamsudin Noor bersama Kapolda Kalsel, Jumat (28/8) petang mengatakan berbagai upaya telah dilakukan untuk percepatan penanganan karhutla di Kalsel. “Semua sumber daya sudah kita kerahkan, termasuk berbagai strategi pemadaman. Namun karhutla dan asap masih ada. Ini akan kita tangani terus melibatkan semua pihak,” kata Muhidin.
Selain pemadaman konvensional dengan penyemprotan, pembasahan dan water bombing. Pihaknya juga menerapkan sistem pemadaman menggunakan sunting bumi (biopori) juga penggunaan bahan tepung yang dicampur pada kolam sumber air (bioflok). Cara ini dinilai cukup ampuh mematikan kebakaran di lahan gambat dimana titik apinya berada beberapa meter di bawah permukaan. (L03)