TANGERANG-Indonesia memperkuat komitmen negara-negara Asia Tenggara
dalam menghadapi tantangan pengelolaan bahan kimia dan limbah, termasuk risiko perpindahan lintas batas yang semakin kompleks.
Komitmen ini disampaikan Indonesia
saat menjadi tuan rumah penyelenggaraan pertemuan ke-11 ASEAN Working Group on
Chemicals and Waste (AWGCW) yang berlangsung pada 12–13 Mei 2026.
Plt. Deputi Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 KLH/BPLH, Laksmi Widyajayanti, menegaskan pentingnya pengelolaan bahan kimia dan limbah sebagai tanggung jawab bersama lintas negara. “Pengelolaan bahan kimia dan limbah yang sehat tidak dapat lagi dipandang sebagai tugas nasional semata, melainkan harus menjadi gerakan kolektif global. Tanpa upaya bersama di tingkat internasional, mustahil memerangi lalu lintas ilegal limbah lintas batas serta mewujudkan ekonomi sirkular di kawasan ini,” tegas Laksmi.
Sejalan dengan upaya memperkuat sinergi regional, ASEAN dihadapkan pada tantangan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan. Dalam konteks tersebut, Chairman AWGCW dari Malaysia, Mahadi Bin Sukarno, menegaskan
bahwa ASEAN tidak boleh menjadi lokasi pembuangan limbah global.
“Sebagai kawasan yang sedang pesat membangun, ASEAN tidak boleh menjadi lokasi pembuangan limbah global.
Pertemuan ini penting untuk menyelaraskan arah kebijakan
agar kita mampu menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan perlindungan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Kita harus memastikan ASEAN tetap bebas dari pencemaran bahan kimia dan limbah melalui aksi nyata, bukan sekadar pertemuan tahunan,” ujar Mahadi.
Selama dua hari pertemuan, KLH/BPLH memfasilitasi pembahasan tujuh program prioritas dalam AWGCW Action Plan, mulai dari penguatan teknologi ramah lingkungan menuju
industri hijau, penanganan darurat kecelakaan bahan kimia, hingga remediasi lahan terkontaminasi. KLH/BPLH juga mendorong harmonisasi standar operasional di antara negara anggota guna memastikan kesiapan dalam memenuhi berbagai konvensi
internasional seperti Basel, Minamata, dan Protokol Montreal.
Selain itu, pertemuan ini menjadi ruang pertukaran inovasi terkait ekonomi sirkular, dengan mendorong pengelolaan limbah yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan dampak lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi secara berkelanjutan. Hasil pertemuan ini akan menjadi pijakan bagi Lao PDR yang akan melanjutkan kepemimpinan AWGCW pada tahun 2027. (L03)