BANJARBARU-Pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan berkomitmen untuk mempercepat pembangunan bendungan Riam Kiwa di Kabupaten Banjar yang menjadi bagian Proyek Strategis Nasional (PSN). Sempat terkendala masalah pembebasan lahan, bendungan Riam Kiwa ditargetkan selesai pada 2028 mendatang.
Hal ini dikemukakan, Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel, Muhammad Syarifuddin di sela-sela rapat percepatan pelaksanaan Penanganan Dampak Sosial Kemasyarakatan (PDSK) dalam pembangunan Bendungan Riam Kiwa, di kantor Gubernur Kalsel, Senin (11/5). “Bendung Riam Kiwa merupakan Proyek Strategis Nasional di Kalsel, sehingga upaya percepatan realisasinya kita lakukan,” ungkap Syarifuddin.
Dalam rapat yang menghadirkan berbagai stakeholder terkait seperti Pemkab Banjar, BPN, Balai Wilayah Sungai Kalimantan dan Dinas PUPR tersebut menghasilkan kesepakatan terkait tahapan dan pelaksanaan pembengunan bendung. “Kita membuat timeline waktunya sehingga target realisasinya tidak terlalu jauh, minimal tahun 2028-2029 sudah selesai,” ujar Syarifuddin.
Bupati Banjar, Saidi Mansyur memaparkan pembangunan Bendungan Riam Kiwa berdampak positif bagi masyarakat, terutama untuk sektor pertanian dan penanganan banjir. “Komitmen pemerintah daerah dalam pendampingan tim nantinya menjadi kekuatan, sehingga pembangunan bisa berjalan dengan baik,” pungkas Saidi
Sebelumnya Kementerian Pekerjaan Umum menyatakan komitmen mempercepat pembangunan bendungan Riam Kiwa, Kabupaten Banjar sebagai salah satu solusi strategis mengatasi bencana banjir tahunan di Provinsi Kalimantan Selatan. Beroperasinya bendungan Riam Kiwa nantinya diprediksi mampu mengatasi 70 persen banjir di Kalsel.
Selama ini Kalsel menjadi daerah rawan bencana hidrometeorologi berupa banjir, angin kencang dan longsor saat musim penghujan.
Serta ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan kekeringan saat kemarau. Banjir besar tercatat melanda 11 kabupaten/kota di Kalsel pada awal 2021 dengan belasan warga tewas dan lebih 600 ribu warga terdampak banjir dan sebagian terpaksa mengungsi.
Pada akhir 2025 hingga awal 2026 banjir besar kembali melanda delapan kabupaten/kota di Kalsel dengan jumlah warga terdampak mencapai 200 ribu jiwa. Selain bendungan Riam Kiwa, Pemprov Kalsel juga melakukan upaya berupa normalisasi sungai besar dan revitalisasi folder Alabio.(L03)