BANJARMASIN-Keterbatasan sumber air akibat kemarau dan krisis BBM telah menghambat upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (Kahutla) di Provinsi Kalimantan Selatan.
“Salah satu kendala yang dihadapi dalam pemadaman Karhutla di lapangan adalah sumber air yang terbatas akibat kemarau juga masalah BBM,” ungkap Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Ronny Eka Saputra.
Saat ini Satgas Karhutla Kalsel tengah fokus memadamkan kebakaran di areal lahan gambut sekitar Jalan Gubernur Syarkawi, seluas 1.600 hektare di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar. Terbakarnya lahan gambut di area ini menjadi sumber kabut asap yang menyelimuti udara Kota Banjarbaru, Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar.
Kemudian kebakaran lahan gambut di wilayah Kecamatah Handil Bakti, Barito Kuala yang berdekatan dengan kawasan permukiman dan sejumlah fasilitas pendidikan (kampus). Sementara hutan lindung Liang Anggang dan Tahura Sultan Adam juga dilaporkan kembali terbakar.
Dikatakan Ronny upaya lain yang tengah dilakukan untuk membantu pemadaman Karhutla adalah kegiatan operasi modifikasi cuaca (OMC). “Kita tahu pemadaman yang paling efektif adalah turunnya hujan, terlebih pemadaman darat dan udara menghadapi kendala air yang semakin terbatas karena kemarau. Karena itu kita berharap OMC dapat berhasil,” ujarnya.
Ketua Tim Pengawasan Satgas BBM Kalsel, Ahmad Bagiawan mengatakan pihaknya telah mendapat laporan tentang relawan atau BPK yang kesulitan mendapatkan BBM untuk membantu pemadaman Karhutla. “Telah kita tindaklanjuti dengan meminta pihak Pertamina melalui SPBU untuk memprioritaskan atau menyediakan alokasi bagi BPK mendapatkan BBM untuk penanganan Karhutla ini,” kata Ahmad Bagiawan.
Tingginya intensitas baik Karhutla maupun kebakaran permukiman sepanjang musim kemarau ini, membuat para relawan, BPK dan Satgas Karhutla kesulitan mendapatkan BBM di SPBU. Di sisi lain stok BBM subsidi jenis pertalite dan solar sering kosong dan kalaupun ada maka harus antri panjang. (L03)