BANJARBARU-Kabut asap dampak dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang telah berlangsung dalam empat bulan terakhir serta berulang setiap tahun melanda Provinsi Kalimantan Selatan, dikhawatirkan akan mempengaruhi tumbuh kembang anak.
Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Diauddin mengatakan dari sisi kesehatan, kabut asap telah memicu meningkatnya penyakit inspeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pnemonia. Terutama pada balita, anak dan pada kelompok rentan. “Rata-rata kasus mingguan ISPA dan pnemonia di Kalsel sebanyak 10 ribuan kasus. Penyebab utamanya karena kabut asap,” tutur Diauddin, Kamis (29/10).
Paparan kabut asap selain menyebabkan ISPA dan pnemonia juga dapat memperparah seseorang yang mempunyai penyakit bawaan seperti asma dan paru. “Mereka yang terserang ISPA umumnya nafsu makan berkurang dan dalam jangka panjang menyebabkan kurang gizi, hingga stunting. Bahkan berpengaruh pada kecerdasan, namun ini masih memerlukan penelitian lanjutan,” kata Diauddin.
Kekhawatiran kabut asap yang bisa berdampak pada tumbuh kembang anak juga disampaikan, Rika Vira Zwagery, Psikolog Anak dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin. Rika menuturkan paparan kabut asap yang berlangsung lama dan berulang akan menimbulkan dampak baik fisik maupun psikologis.
“Tidak hanya dampak langsung penyakit seperti ISPA, namun juga ancaman dampak jangka panjang berupa trauma, gangguan psikologis dan kesehatan lainnya. Kebijakan PJJ jika tidak dibarengi pola pendidikan yang baik akan mempengaruhi kemampuan akademik siswa,” tuturnya.
Karena itu Karhutla dan kabut asap tidak bisa dianggap sebagai kejadian biasa, tetapi merupakan sebuah bencana yang dampak kerugiannya sangat besar terhadap lingkungan, kesehatan, pendidikan, ekonomi hingga mengancam masa depan bangsa. Penanganan Karhutla dan kabut asap juga tidak bisa hanya sebatas pemadaman, melainkan perlu strategi penanganan jangka panjang melalui mitigasi dan penegakan hukum agar tidak berulang. (L03)