BANJARMASIN-Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dan kabut asap yang semakin parah melanda wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga habitat dan keselamatan satwa liar.
“Karhutla bukan hanya persoalan hilangnya tutupan hutan, tetapi juga ancaman serius terhadap keberlangsungan ekosistem lahan basah dan satwa endemik Kalimantan. Karena itu, upaya pencegahan menjadi kunci utama,” ungkap Amalia Rizki, pendiri Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), Minggu (30/8).
Dikatakan Amalia yang mengelola Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak, Barito Kuala, berharap seluruh elemen masyarakat dapat bersama-sama menjaga kawasan dari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, sehingga habitat bekantan dan keanekaragaman hayati lainnya tetap lestari.
“Sejauh ini, kawasan Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak masih dalam kondisi belum mengalami karhutla secara langsung. Namun demikian, kami tetap merasakan dampak tidak langsung berupa kabut asap yang menyelimuti kawasan, sehingga berpotensi memengaruhi kualitas udara, aktivitas satwa liar, serta kenyamanan tim peneliti dan pengunjung dalam melakukan kegiatan konservasi,” ujarnya.
Selain kabut asap, pihaknya juga terus mengamati tingginya interusi air laut ke aliran Sungai Barito yang menyebabkan peningkatan salinitas di kawasan ekosistem lahan basah. Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kesehatan ekosistem mangrove dan ketersediaan sumber pakan alami bagi bekantan.
Sebagai langkah antisipasi, SBI memperkuat upaya preventif melalui patroli rutin, monitoring kondisi kawasan, serta pemantauan populasi dan perilaku bekantan secara intensif.
Pantauan Media, kabut asap terus menyelimuti sejumlah wilayah Kalsel, terutama daerah sekitar Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru. Kualitas udara yang buruk telah memicu peningkatan kasus ISPA dan pnemonia. Tidak hanya itu kabut asap menyebabkan sebagian warga mulai mengungsi
Salah satunya warga Kelurahan Syamsudin Noor, Banjarbaru. Ketua RT 40 RW 06, Hendri Wibowo, mengatakan sebagian warganya terpaksa mengungsi ke lokasi aman rumah sanak keluarga karena kabut asap. “Cukup banyak yang terpaksa mengungsi terutama keluarga yang punya balita, lansia dan penyakit kronis karena kabut asap ini,” tuturnya. (L03)