Krisis Air Bersih Hantui Masyarakat Kalsel

750 x 100 AD PLACEMENT

BANJARBARU-Krisis air bersih kini melanda sebagian wilayah di Provinsi Kalimantan Selatan, menyusul surutnya sumber air sungai dan sumur warga akibat kemarau yang telah berlangsung empat bulan terakhir. Kabupaten Banjar menjadi salah satu daerah terparah dilanda kekeringan, dimana masyarakat 84 desa pada 18 kecamatan di wilayah tersebut mengalami kesulitan air bersih.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan, Ronny Eka Saputra, Sabtu (23/10) mengatakan Provinsi Kalsel saat ini menghadapi ancaman kekeringan disamping bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). “Sejumlah wilayah kini mengalami kekeringan akibat kemarau panjang dan warga mulai kesulitan air bersih. Surutnya sumber air seperti sungai, embung dan waduk juga berpengaruh pada upaya pemadaman Karhutla di lapangan karena sumber air semakin terbatas,” tuturnya.

Kabupaten Banjar merupakan salah satu daerah terparah mengalami kekeringan dan krisis air bersih. Tercatat ada 84 desa yang tersebar pada 18 kecamatan mengalami krisis air bersih, akibat surutnya sumber air sungai dan sumur warga, sehingga harus dipasok pemerintah daerah melalui PDAM dan BPBD.

Hampir empat juta liter air bersih telah disalurkan kepada masyarakat, termasuk untuk keperluan fasilitas umum, sekolah dan tempat ibadah. Selain Banjar, sebagian besar wilayah di Kalsel juga mengalami kekeringan seperti Barito Kuala, Tanah Laut, Kotabaru, Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Utara.

750 x 100 AD PLACEMENT

Kepala BPBD Hulu Sungai Utara, Karyanadi mengungkapkan tingkat kekeringan wilayahnya secara umum berada pada kategori sedang. Namun ada beberapa desa yang mulai mengalami kesulitan air bersih akibat kemarau panjang. “Beberapa desa ada yang mengajukan permintaan bantuan air bersih dan telah kami tindak lanjuti,” ujarnya.

Di Kota Banjarbaru dan Kota Banjarmasin, pasokan air bersih PDAM setempat kepada masyarakat terganggu akibat surutnya sumber air baku sungai dan irigasi yang berasal dari waduk Riam Kanan, sejak beberapa waktu terakhir. Sebagian warga harus membeli air galon atau kemasan, terutama untuk keperluan minum dan memasak.

Data Balai Wilayah Sungai (BWS) III Kalimantan, mencatat saat ini ketinggian debit air waduk Riam Kanan berada pada level 54,9 meter atau surut dari kondisi normal 60 meter. Kondisi kekeringan juga telah berdampak pada sektor pertanian, dimana sebagian petani mengalami gagal panen. (L03)

750 x 100 AD PLACEMENT

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukai :