BANJARBARU-Rentan terbakar berulang saat kemarau dan banjir saat penghujan, menunjukkan bahwa kondisi ribuan hektare kawasan hidrologis gambut Maluka di sekitar Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru telah mengalami kerusakan sangat parah akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Luas Karhutla di Kalsel terus bertambah dan sudah mencapai 21 ribu hektare lebih.
Data Pusdalops BPBD Kalsel mencatat kondisi Karhutla di wilayah ini terus meluas dan sudah mencapai lebih 21 ribu hektare dengan 3.200 kejadian. Kondisi Karhutla di Kalsel ini mendapat sorotan dari Komite II DPD RI yang mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk segera mencari solusi penanganan Karhutla berulang dan telah menimbulkan dampak kerusakan lingkungan serta gangguan kesehatan, transportasi di derita masyarakat.
“Karhutla ini terus berulang berganti-ganti presiden tetap saja terjadi. Ini telah menimbulkan dampak kerugian bagi masyarakat dan lingkungan. Karena itu perlu ada roadmap dan solusi bersama agar Karhutla tidak berulang,” ungkap Angelius Wake Kako, Anggota Komite 2 DPD RI, Senin (14/9) di Banjarbaru.
Senada Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, Senin (14/9). “Hasil evaluasi kita di lapangan, kebakaran yang berulang menyebabkan lahan gambut mengalami rusak parah. Kerusakan juga ditandai tingkat kerentanan kebakaran yang tinggi saat kemarau dan banjir saat penghujan,” ungkap Hanif.
Fakta di lapangan, aksi pembasahan yang dilakukan secara masif memperlihatkan air yang disalurkan ke lahan gambut berbalik arah ke kanal dengan sangat cepat. “Tak dapat kita pungkiri kawasan lahan gambut di areal ring satu bandara Syamsudin Noor tersebut sebagian besar telah beralih fungsi untuk berbagai kepentingan seperti permukiman dan lahan pertanian yang memicu kerusakan gambut,” kata Hanif.
Kerusakan gambut juga diperparah akibat sistem drainase yang dibangun berlebihan dan serampangan pihak swasta sehingga menghilangkan kemampuan alami gambut dalam menahan air. Kerusakan gambut terparah terjadi pada kawasan hidrologis gambut di Gunung Damar dan Pengkayuan, Banjarbaru. Diperkirakan luas lahan gambut yang mengalami kerusakan dan saat ini terbakar mencapai 3.000 hektare lebih.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat upaya pembasahan secara konvensional menjadi kurang efektif untuk mengatasi Karhutla. Pihaknya kini menyiapkan penggunaan cairan Surfaktan sebagai salah satu strategi penanganan karhutla di kawasan gambut. “Harus ada pengerahan Satgas darat secara masif melibatkan semua pihak termasuk relawan. Kita ingin masalah Karhutla ini tuntas sesegera mungkin, karena kebakaran berulang menjadi ancaman bagi keselamatan dan kesehatan masyarakat dan lingkungan,” tegas Hanif.
Lebih jauh mantan Menteri LH ini mendorong pentingnya regulasi terkait perlindungan lahan gambut, penegakan hukum dan mitigasi bencana karhutla dan banjir di kawasan tersebut. Terkait regulasi ini pihaknya akan bekerjasama dengan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin.
Ia menilai pengalaman penanganan karhutla tahun ini menjadi pembelajaran penting. Ratusan pompa dan puluhan unit pompa tangki telah dikerahkan dan ribuan personel. Namun, kondisi gambut yang sangat kering membuat metode konvensional belum cukup untuk menaklukkan api.
Karena itu, strategi penanganan akan ditingkatkan dari sekadar pemadaman menjadi upaya yang lebih terintegrasi, dengan menggabungkan pemadaman, pembasahan gambut, pengendalian air, hingga pencegahan kebakaran sejak awal. (L03)