BANJARBARU-El nino dan kemarau panjang telah menyebabkan terjadi kekeringan dan krisis air bersih di sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Selatan. Produksi air bersih PTAM Bandarmasih, Banjarmasin berkurang hingga 50 persen dengan jumlah masyarakat terdampak 150 ribu rumah tangga pelanggan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel mencatat sejumlah daerah mengalami kekeringan dan kesulitan air bersih akibat kemarau. Daerah terparah terdampak kekeringan meliputi Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, Banjar dan Kotabaru.
Kepala BPBD Banjar, Wasis Nugraha, Kamis (10/9) dalam laporan kebencanaannya mengungkapkan saat ini ada 55 desa yang tersebar di 15 kecamatan di Kabupaten Banjar mengalami kekeringan dan kesulitan air bersih. Sejak Juni pihaknya telah menyalurkan lebih dari 2,1 juta liter air bersih dan meminjamkan 130 tandon air kepada warga terdampak.
Di Kabupaten Hulu Sungai Utara, tercatat ada 41 desa pada sembilan kecamatan mengalami kekeringan dimana beberapa mengalami krisis air bersih. Puluhan desa lainnya di Kabupaten Kotabaru dan Hulu Sungai Selatan dilaporkan juga mengalami kesulitan air bersih. Warga terpaksa mengandalkan air bersih bantuan pemerintah atau membeli dari pedagang air musiman dengan harga cukup tinggi.
Krisis air bersih juga mulai dirasakan warga Kota Banjarmasin. Kemarau menyebabkan Sungai Martapura yang menjadi salah satu sumber air baku mengalami interusi air laut mencapai 8.000 mg/liter. Kondisi ini menyebabkan pihak PTAM Bandarmasih terpaksa menghentikan operasiomal intake Sungai Bilu berkapasitas 600 liter/detik.
Supervisor Humas PT Air Minum Bandarmasih, Murjani di Banjarmasin, Rabu, mengatakan instrusi air laut pada Sungai Martapura yang mencapai 8.000 miligram per liter menyebabkan air sungai tidak dapat diolah menjadi air bersih dan disalurkan ke warga. “Interusi air laut mengharuskan PAM Banjarmasin terpaksa menghentikan pengambilan air baku di Intake Sungai Bilu,” ujarnya.
Saat ini PTAM Bandarmasih hanya mengandalkan sumber air yang berasal dari Sungai Tabuk yang juga mengalami penurunan debit air akibat kemarau. Sedangkan sumber air baku dari irigasi Riam Kanan tidak sampai ke Banjarmasin karena dimanfaatkan PTAM Banjar dan dialihkan untuk membantu pemadaman Karhutla.
Kapasitas produksi air bersih PTAM Bandarmasih yang normalnya mencapai 2.200 liter per detik, kini berkurang 50 persen untuk melayani lebih 150 ribu pelanggan. Untuk mengatasi masalah kekurangan distribusi air bersih ini, PAM Bandarmasih mendistribusikan air bersih secara rutin menggunakan armada truk tangki ke wilayah terdampak. (L03)