BANJARBARU-Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap pada puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung Juli hingga September 2026. Selain mendirikan Posko Bencana Karhutla, Dinas Sosial juga menyiapkan safe house atau rumah aman bagi warga korban bencana karhutla dan kabut asap.
Kepala Bidang Kebencanaan Dinas Sosial Kalsel, Ahmadi, Selasa (7/7) mengungkapkan pihaknya, bersama instansi terkait telah menyiapkan langkah strategis dalam menghadapi potensi kekeringan, karhutla dan kabut asap dampak elnino. “Koordinasi dengan instansi terkait dan kabupaten/kota telah kita lakukan, memastikan ketersediaan logistik, mengoptimalkan lumbung sosial di daerah rawan bencana. Termasuk kesiapan personil Tagana dan sarpras di lapangan,” ungkapnya.
Dinas Sosial Provinsi Kalsel juga menyiapkan safe house atau rumah aman untuk mengantisipasi dampak kabut asap seperti yang pernah terjadi pada 2015 dan 2019. “Pengelolaan sage house nanti melibatkan Dinas Kesehatan. Safe dilengkapi berbagai fasilitas memadai yang mampu menampung cukup banyak warga korban bencana kabut asap,” kata Ahmadi.
Lebih jauh Ahmadi mengatakan berdasarkan hasil pemantauan lapangan bersama pihak BPBD Provinsi Kalsel, di sejumlah daerah bahwa kondisi sungai dan sumber air mulai mengalami penurunan debit air signifikan akibat kemarau hingga 1,5 meter. Demikian juga kondisi lahan gambut di beberapa titik juga mulai mengering dan retak sehingga meningkatkan risiko kebakaran.
Untuk mendukung upaya mitigasi dan penanganan Karhutla di lapangan, Dinsos Kalsel menyiagakan 33 personel Taruna Siaga Bencana (Tagana), tiga mobil tangki air, tiga mesin pompa pemadam, serta dapur umum lapangan yang dapat digerakkan sewaktu-waktu apabila terjadi bencana. “Kita siap membantu penanganan karhutla serta upaya pembasahan lahan gambut bersama BPBD sebagai langkah antisipasi,” ujarnya.
Kepala BPBD Kalsel, Roni Eka Saputra mengakui kondisi mulai mengeringnya sungai dan sumber air (embung) akibat kemarau. “Yang cukup parah adalah kawasan DAS Handil Maluka di wilayah Tanah Laut sehingga perlu kita waspadai. Sedangkan kondisi lahan gambut dekat bandara Syamsudin Noor masih ada air, tetapi nantinya juga perlu pembasahan,” tuturnya.
Pada bagian lain, General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Internasional Syamsudin Noor, Stephanus Millyas Wardana, menegaskan untuk mengamankan operasional bandara, pihaknya telah menyiagakan kekuatan penuh ARFF (Airport Firefighters). “Kaitannya dengan operasional bandara, kami sudah siap. Kami memiliki tim khusus namanya ARFF (Airport Firefighters). Kami sudah siap dengan segala kekuatannya,” ujar Millyas.
Sejauh ini karhutla masih minim terjadi dan operasional penerbangan masih berjalan normal. Namun pihaknya tidak ingin kecolongan, mengingat dampak kabut asap Karhutla yang dapat mengganggu jarak pandang penerbangan (visibility). (L03)