Pemko Banjarmasin Bangun Embung Atasi Krisis Air

750 x 100 AD PLACEMENT

 

BANJARMASIN-Pemerintah Kota Banjarmasin akan membangun embung sebagai cadangan sumber air baku, guna mengatasi ancaman kekeringan dan interusi air laut saat kemarau. Kemarau panjang menyebabkan sumber air baku PAM Bandarmasih menurun hingga 50 persen dan terhentinya operasional intake Sungai Bilu akibat interusi air laut.

 

Dalam dua bulan terakhir warga Kota Banjarmasin mengalami krisis air bersih dimana pasokan air baku Kota Banjarmasin menyusut hingga 50 persen akibat kemarau dan intrusi air laut. Dampaknya kian terasa di sejumlah wilayah, mengakibatkan aliran air bersih terlebih di kawasan ujung jaringan, berkurang bahkan terhenti.

750 x 100 AD PLACEMENT

 

Kondisi itu mendorong Pemerintah Kota Banjarmasin mencari solusi jangka panjang. Salah satunya adalah dengan pembangunan embung berkapasitas sekitar 1,1 juta meter kubik sebagai cadangan air baku

guna mengatasi ancaman kekeringan dan interusi air laut saat kemarau.

 

750 x 100 AD PLACEMENT

“Saat kemarau seperti sekarang ini, air baku kita memang tidak mencukupi. Karena itu kita berupaya memastikan bagaimana air yang tersedia ini bisa diolah dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan warga,” ungkap

Wali Kota Banjarmasin, M Yamin HR, saat meninjau Instalasi Pengolahan Air (IPA) 2 di kawasan Pramuka, kemarin.

 

Yamin mengungkapkan rencana pembangunan embung berkapasitas sekitar 1,1 juta meter kubik tersebut telah dikoordinasikan dengan Gubernur Kalimantan Selatan. Sejatinya rencana pembangunan embung sebagai cadangan sumber air baku ini sudah ada sejak beberapa tahun lalu, namun belum terealisasi.

750 x 100 AD PLACEMENT

 

Direktur Utama PT Air Minum Bandarmasih Zulbadi, menjelaskan

Banjarmasin ditopang dua instalasi pengolahan air dengan sumber berbeda. IPA 1 di kawasan Sungai Bilu memanfaatkan air Sungai Martapura, sedangkan IPA 2 di kawasan Pramuka memperoleh air baku dari Sungai Tabuk.

 

Sumber air IPA 1 terdampak intrusi air laut sehingga kadar garam meningkat. Sementara IPA 2 masih mengandalkan sumber air dari Sungai Tabuk yang berjarak sekitar 11 kilometer dari instalasi pengolahan.

Kondisi tersebut membuat pasokan ke jaringan distribusi menurun. Dampaknya terutama dirasakan warga di wilayah yang berada jauh dari pusat pelayanan atau di ujung jaringan.

 

Situasi semakin berat setelah penyaluran air dengan kadar garam tinggi dihentikan. Sebelumnya, air tersebut sempat disalurkan secara terbatas untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK), namun di tengah perjalanan mendapat respons yang kurang baik dari masyarakat.

 

Data BPBD Kalsel mencatat sejumlah daerah di Kalsel mengalami kekeringan dan krisis air bersih akibat kemarau. Selain Kota Banjarmasin, daerah terparah mengalami krisis air bersih adalah Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Hulu Sungai Utara dan Kotabaru. (L03)

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukai :