Food Estate dan B50 Berkolerasi Terhadap Karhutla

750 x 100 AD PLACEMENT

BANJARBARU-Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang parah terjadi di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan hingga Papua, dinilai berkorelasi kuat dan tak terpisahkan dengan ambisi pemerintah dalam proyek strategis nasional seperti food estate dan bahan bakar nabati (biofuel/biodiesel).

“Kami berpandangan bahwa lonjakan titik api dalam kebakaran hutan dan lahan yang terjadi akhir-akhir ini memiliki korelasi yang sangat kuat dan tak terpisahkan dengan eskalasi ambisi nasional dalam proyek-proyek strategis seperti food estate dan dorongan bahan bakar nabati biofuel/biodiesel (B50),” ungkap Achmad Surambo, Direktur Eksekutif Sawit Watch, Minggu (6/9).

Pihaknya menilai kebijakan peningkatan mandatori energi yang tidak diimbangi dengan tata kelola rantai pasok yang bersih telah memicu perambahan brutal ke wilayah frontier baru dan ekosistem gambut rapuh. Pergeseran titik api kini tidak lagi terkonsentrasi di Sumatera dan Kalimantan saja, melainkan melebar secara signifikan ke wilayah timur Indonesia.

Menempatkan Papua Selatan di posisi kedua terburuk se-nasional dengan luas area terbakar mencapai 25.838 hektar terbakar, berkorelasi positif dengan masifnya proyek-proyek pembukaan lahan skala besar yang terjadi disana (food estate dan biofuel).

750 x 100 AD PLACEMENT

Pemerintah wajib mengaudit total perizinan perkebunan sawit dan memastikan bahwa bahan baku untuk program energi nasional (seperti biodiesel) tidak berasal dari kawasan deforestasi, alih fungsi lahan gambut, ataupun wilayah yang terbakar. “Kami juga berharap agar pemerintah mengentikan segala bentuk pelepasan kawasan hutan dan konversi lahan gambut baru demi ambisi komoditas dan mengabaikan keselamatan lingkungan dan umat manusia,” tegas Rambo.

Pada bagian lain, target pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah lahan gambut Kota Banjarbaru dan sekitarnya di Kalimantan Selatan, dalam dua pekan tidak berhasil. Kebakaran lahan gambut dan lainnya masih terjadi di sejumlah wilayah Kalsel.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan sekaligus Ketua Penanganan Karhutla Kalimantan Selatan, Hanif Faisol Nurofiq, saat Rakor Karhutla di Posko Guntung Damar, Banjarbaru kemarin berdalih karakteristik lahan gambut yang kering hingga ke lapisan dalam serta keterbatasan sumber air di lapangan menjadi kendala utama belum tuntasnya pemadaman.

Baca Juga :

Hanif mengakui bahwa strategi awal Satgas Karhutla yang menargetkan penguasaan titik api di area utama (ring satu bandara) dalam kurun waktu 10 hari ke belakang belum sepenuhnya terealisasi. “Rencana kita sebenarnya dalam 10 hari ke belakang kita bisa kuasai poligon utamanya, kemudian di hari-hari berikutnya kita perlebar area kerja. Ternyata belum bisa, pada poligon utama ini masih menyala, masih ada potensi api yang harus kita perhatikan,” katanya.

750 x 100 AD PLACEMENT

Ia menjelaskan bahwa beberapa lokasi sebenarnya sempat berhasil dipadamkan. Namun karena sifat tanah gambut yang porous dan kering hingga ke bagian dalam, api di bawah permukaan kembali menyulut kebakaran di atasnya. Di sisi lain, penanganan karhutla yang selama ini bergantung pada penirisan udara (water bombing) dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum memberikan hasil maksimal karena kondisi alam. (L03)

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukai :