BANJARBARU-Rentan terbakar berulang saat kemarau dan banjir saat penghujan, menunjukkan bahwa kondisi ribuan hektare kawasan hidrologis gambut Maluka di sekitar Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru telah mengalami kerusakan sangat parah akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Hal ini dikemukakan Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, saat memimpin rapat koordinasi dan evaluasi percepatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Dishut Kalsel, Sabtu (12/9) malam. “Hasil evaluasi kita di lapangan, kebakaran yang berulang menyebabkan lahan gambut mengalami rusak parah. Kerusakan juga ditandai tingkat kerentanan kebakaran yang tinggi saat kemarau dan banjir saat penghujan,” ungkap Hanif.
Fakta di lapangan, aksi pembasahan yang dilakukan secara masif memperlihatkan air yang disalurkan ke lahan gambut berbalik arah ke kanal dengan sangat cepat. “Tak dapat kita pungkiri kawasan lahan gambut di areal ring satu bandara Syamsudin Noor tersebut sebagian besar telah beralih fungsi untuk berbagai kepentingan seperti permukiman dan lahan pertanian yang memicu kerusakan gambut,” kata Hanif.
Kerusakan gambut juga diperparah akibat sistem drainase yang dibangun berlebihan dan serampangan pihak swasta sehingga menghilangkan kemampuan alami gambut dalam menahan air. Kerusakan gambut terparah terjadi pada kawasan hidrologis gambut di Gunung Damar dan Pengkayuan, Banjarbaru. Diperkirakan luas lahan gambut yang mengalami kerusakan dan saat ini terbakar mencapai 3.000 hektare lebih.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat upaya pembasahan secara konvensional menjadi kurang efektif untuk mengatasi Karhutla. Pihaknya kini menyiapkan penggunaan cairan Surfaktan sebagai salah satu strategi penanganan karhutla di kawasan gambut. “Harus ada pengerahan Satgas darat secara masif melibatkan semua pihak termasuk relawan. Kita ingin masalah Karhutla ini tuntas sesegera mungkin, karena kebakaran berulang menjadi ancaman bagi keselamatan dan kesehatan masyarakat dan lingkungan,” tegas Hanif.
Lebih jauh mantan Menteri LH ini mendorong pentingnya regulasi terkait perlindungan lahan gambut, penegakan hukum dan mitigasi bencana karhutla dan banjir di kawasan tersebut. Terkait regulasi ini pihaknya akan bekerjasama dengan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin.
Ia menilai pengalaman penanganan karhutla tahun ini menjadi pembelajaran penting. Ratusan pompa dan puluhan unit pompa tangki telah dikerahkan dan ribuan personel. Namun, kondisi gambut yang sangat kering membuat metode konvensional belum cukup untuk menaklukkan api.
Karena itu, strategi penanganan akan ditingkatkan dari sekadar pemadaman menjadi upaya yang lebih terintegrasi, dengan menggabungkan pemadaman, pembasahan gambut, pengendalian air, hingga pencegahan kebakaran sejak awal.
Profesor Ahmad Kurnain, guru besar ULM Banjarmasin mengatakan pemanfaatan lahan gambut perlu adanya regulasi mulai tingkat tapak atau desa dengan mengedepankan kearifan lokal. “Praktek baik terkait pemanfaatan lahan gambut ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Tinggal bagaimana mengkolaborasi para pihak agar tidak ada lagi kebakaran di masa datang. Salah satunya dengan membentuk desa mandiri bebas kebakaran, sehingga masyarakat terlibat dalam menjaga dan melindungi lahan gambut,” ujarnya. (L03)