Meski udara terasa sedikit panas dan berkabut dampak asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang menyelimuti Kota Pontianak, suasana malam di ibu kota Provinsi Kalimantan Barat tersebut tetap hidup dan dinamis.
Yang cukup menarik perhatian adalah suasana malam di jalanan kota, dipenuhi kedai-kedai kopi dan kuliner tetap ramai dikunjungi warga baik warga lokal maupun pelancong dari berbagai daerah. Seperti Jalan Gajah Mada yang dikenal sebagai pusat Pecinan dan kawasan Coffee Street. Disini terdapat banyak kedai kopi legendaris hingga kafe modern, restoran, hotel, serta pusat perbelanjaan.
Suasana kawasan ini tidak pernah sepi dari pagi hingga malam hari dan menjadi pusat aktivitas ekonomi dan hiburan. Tak kalah ramai adalah kawasan Jalan Reformasi, menjadi kawasan favorit bagi kawula muda, pelajar, dan mahasiswa. Kawasan yang menawarkan banyak pilihan coffee shop kekinian, tempat makan, dan ruang sosial untuk nongkrong.
Berdasarkan data Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Pontianak per-Agustus 2025, tercatat ada 1.035 objek usaha jenis warung kopi dan coffee shop tersebar di enam kecamatan di Kota Pontianak. Angka ini diperkirakan terus bertumbuh. Pusat utama ada di kawasan Pontianak Selatan dan Pontianak Kota.
Walikota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono dalam suatu kesempatan mengatakan perkembangan pesat warung kopi menjadi salah satu ciri khas kota yang dikenal sebagai ‘Kota Seribu Warung Kopi’ ini. “Warung kopi bukan hanya menjadi ruang berkumpul masyarakat, tetapi juga pendorong aktivitas ekonomi lokal,” ungkapnya.
Kedai kopi di Pontianak tumbuh sebagai bagian dari budaya masyarakat setempat. Ini menjadi tempat interaksi sosial, kreativitas, sekaligus penggerak ekonomi sektor UMKM. “Pemerintah kota mendukung tumbuhnya usaha-usaha ini karena memberi kontribusi pada PAD dan membuka lapangan kerja,” ujarnya.
Senada, Rudy R Harahap, Kepala BPKP Kalimantan Barat, yang dikenal penggemar kopi Indonesia ini me
menambahkan terus bertumbuhnya kedai-kedai kopi menunjukkan gairah ekonomi masyarakat yang positif. “Trend ini perlu diapresiasi secara positif oleh pemerintah daerah, mulai mendorong kemudahan perizinan, pembinaan hingga insentif bagi UMKM,” ujarnya.
Budaya ngopi di Pontianak, merupakan tradisi minum kopi yang mengakar kuat dan menjadi ruang interaksi sosial lintas etnis tanpa batasan status sosial. Salah satu yang terkenal dari Pontianak adalah kopi Asiang legendaris. Belum ke Pontianak kalau belum berkunjung ke Kopi Asiang di Jalan Merapi yang berdiri sejak tahun 1958 dan terkenal dengan tradisi kopi tarik serta gaya khas sang pemilik yang tidak mengenakan baju saat meracik kopi. (L03)