Sumber Air Mulai Mengering Jadi Kendala Pemadaman Karhutla 

750 x 100 AD PLACEMENT

 

BANJARBARU-Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Selatan terus terjadi di tengah kondisi semakin mengeringnya sumber-sumber air akibat kemarau panjang yang dapat menjadi kendala upaya pemadaman Karhutla.

 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru mencatat hingga kini sudah lebih 600 hektare kawasan hutan dan lahan di wilayah tersebut terbakar. “Sudah lebih 600 hektare lahan terbakar. Ini menjadi atensi serius kita bersama, mengingat wilayah ini berada di area ring satu atau berdekatan dengan Bandara Internasional Syamsudin Noor,” ungkap Kepala Pelaksana BPBD Kota Banjarbaru, Zaini Syahranie.

750 x 100 AD PLACEMENT

 

Kecamatan Landasan Ulin menjadi daerah terparah dilanda kebakaran yang sebagian besar disebabkan adanya aktivitas pembukaan lahan oleh masyarakat baik pertanian maupun untuk kepentingan lainnya.

Terlebih, karakteristik lahan di Banjarbaru dominan berupa lahan gambut sehingga sangat sulit dipadamkan jika sudah terbakar.

 

750 x 100 AD PLACEMENT

Lebih jauh Zaini mengatakan kondisi penanganan karhutla di lapangan kini dihadapkan pada kendala semakin surutnya sumber air seperti sungai dan embung. Saat ini pemadaman api mengandalkan armada mobil tangki yang mengambil air pada sumber lebih jauh termasuk heli water bombing.

 

Kepala BPBD Kalsel, Ronny Eka Saputra, Senin (3/8), mengakui semakin tingginya intensitas Karhutla di wilayah Kalsel, terutama kawasan ring satu sekitar Bandara meliputi Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar dan Tanah Laut. “Berdasarkan prediksi BMKG puncak karhutla diprediksi Agustus sampai September. Potensi perluasan kebakaran masih sangat tinggi, karena itu kita harus betul-betul siaga ekstra, terutama di kawasan sekitar bandara Syamsudin Noor,” kata Ronny.

 

750 x 100 AD PLACEMENT

Dirinya juga mengakui kondisi sumber-sumber air yang semakin terbatas akibat kemarau panjang. BPBD Kalsel tengah mengkaji untuk kembali melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan berkoordinasi instansi terkait.

 

Di sisi lain, kekuatan penanganan karhutla melalui udara (water bombing) di Kalsel berkurang, dimana dari empat helikopter yang sebelumnya beroperasi dua diantaranya ditarik untuk membantu penanganan di wilayah Provinsi Kalbar dan Kalteng. “Saat ini ada dua heli water bombing beroperasi di Kalsel,” ujarnya.

 

Maraknya karhutla juga berdampak pada serangan kabut asap yang beberapa kali mengganggu jadwal penerbangan dan penurunan kualitas udara di wilayah Kota Banjarbaru.

(L03)

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukai :