BANJARBARU-Ribuan hektare areal persawahan di Provinsi Kalimantan Selatan mengalami kekeringan dan terancam gagal panen (puso) dampak kemarau panjang dalam beberapa waktu terakhir. Pemprov Kalsel melakukan upaya percepatan tanam padi guna menjaga swasembada pangan.
“Kemarau telah berdampak pada kekeringan pada areal persawahan di sejumlah daerah. Saat ini daerah-daerah sentra pertanian tengah memasuki musim panen, namun ada pula wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan dan terancam gagal panen,” ungkap Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kalsel, Syamsir Rahman, Senin (27/7).
Tercatat luas areal persawahan yang mengalami kekeringan hingga akhir Juli 2026 seluas 5.800,3 hektare. Daerah terparah mengalami kekeringan adalah Kabupaten Tanah Laut seluas 3.363 ha, Barito Kuala seluas 1.736 ha dan Banjar 353 ha. Kemudian persemaian yang rusak sebanyak 225 kilogram meliputi di Hulu Sungai Selatan 125 kg dan Tanah Bumbu 100 kg.
“Sejauh ini belum ada yang mengalami puso, namun terancam gagal panen jika tidak cepat ditangani,” kata Syamsir. Karena itu dalam Rakor Pertanian se Kalsel beberapa waktu lalu dihadiri perwakilan Kementerian Pertanian, Balai Wilayah Sungai Kalimantan III, Perum Bulog, PJ Swasembada Pangan, BMKG, ATR/BPN, serta Dinas Pertanian Kabupaten/Kota se-Kalimantan Selatan, disimpulkan berbagai upaya mitigasi kekeringan dan puso .
Salah satu upaya penanganan lahan yang mengalami kekeringan adalah memaksimalkan pompanisasi. Selain itu untuk menjaga produksi dan swasembada pangan, Pemprov Kalsel melakukan percepatan tanam sehingga diharapkan akan ada panen raya pada akhir 2026 mendatang.
Produksi padi Kalsel pada 2025 mencapai 1,179 juta ton GKG dan 2026 ini produksi padi ditargetkan meningkat hingga 1,3 juta ton GKG. Produksi padi ini menempatkan Kalimantan Selatan sebagai daerah penghasil utama padi dan penopang ketahanan pangan di Pulau Kalimantan.
Lebih jauh dikemukakan Syamsir, terkait antisipasi kebakaran lahan pertanian saat kemarau sekarang ini, pihaknya telah menyurati Pemkab sentra pertanian agar melakukan panen menggunakan mesin combain. “Mesin combain untuk panen padi secara modern, tersedia di tiap kabupaten. Ini bisa dimanfaatkan dengan melibatkan Brigade Pangan sehingga saat panen tidak menyisakan batang padi atau jerami yang dapat memicu kebakaran,” kata Syamsir.
Sosialisasi dan pengawasan di lapangan untuk mengantisipasi karhutla juga digencarkan melibatkan PPL, Pemda dan instansi terkait. Hingga kini karhutla terus terjadi di sejumlah wilayah Kalsel. (L03)