
BANJARBARU-Menteri Lingkungan Hidup mendorong Pemerintah Daerah dapat meningkatkan porsi APBD untuk bidang lingkungan khususnya penanganan sampah. Capaian penanganan sampah nasional baru 26 persen dari target yang dicanangkan pemerintah sebesar 63,41 persen pada 2026.
“Masalah sampah ini merupakan masalah mendasar untuk dituntaskan. Pemerintah menargetkan penanganan sampah 100 persen pada 2029 dan 63,41 persen pada 2026. Ini merupakan target yang tinggi karena sejauh ini capaian penanganan sampah nasional baru 26 persen. Karena itu perlu kerja keras kita semua,” kata Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq, saat menghadiri Deklarasi Kilau Emas (Kelola dan Pilah Sampah untuk Banjarbaru Emas) bertepatan perayaan HUT ke 27 Kota Banjarbaru, Senin (20/4).
Menteri LH mendorong agar Pemda dapat meningkatkan porsi APBD untuk bidang lingkungan terutama penanganan sampah. Dirinya juga mengapresiasi kebijakan Pemko Banjarbaru yang menetapkan porsi APBD sebesar 6 persen untuk penanganan sampah. “Jika dihitung Kota Banjarbaru menganggarkan dana penanganan sampah mencapai Rp1,3 juta perton. Ini jauh lebih besar dari Kota Surabaya Rp600 ribu perton. Sudah selayaknya Banjarbaru dapat berhasil dalam penanganan dan pengelolaan sampah,” kata Hanif.
Deklarasi Kilau Emas dibacakan pada camat dan lurah se Kota Banjarbaru yang juga dirangkaikan penyerahan ribuan peralatan pengelolaan sampah dari Kementerian LH kepada Pemko Banjarbaru yang diterima Walikota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby.
Kegiatan Menteri LH di Kalsel juga ditandai dengan kegiatan apel besar dan kurve nasional di Kabupaten Banjar bersama jajaran pemerintah Kabupaten Banjar dan Dinas LH Provinsi Kalsel. Hanif bersama para pejabat Kementerian LH serta pejabat daerah dan ASN melakukan aksi bersih-bersih dan pungut sampah di kawasan pasar tradisional Batuah dan pasar intan Cahaya Bumi Selamat (CBS) Martapura.
Kepala Dinas LH Provinsi Kalsel, Rahmat Prapto Udoyo mengatakan bahwa kegiatan kurve nasional merupakan tindak lanjut arahan Presiden kepada seluruh kepala daerah untuk meningkatkan kepedulian terhadap pengelolaan sampah yang saat ini menjadi persoalan mendasar di berbagai wilayah.
“Permasalahan sampah harus menjadi perhatian utama kita semua. Jika kita ingin mencapai Indonesia Emas 2045, maka persoalan dasar seperti pengelolaan sampah harus diselesaikan segera,” ujarnya. Di Kalsel produksi sampah mencapai 2.100 ton perhari dan di Kabupaten Banjar sekitar 365 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 265 ton telah dikelola dengan baik melalui Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cahaya Kencana menggunakan sistem controlled landfill. (L03)