BANJARBARU-Kemarau panjang yang menimbulkan kekeringan serta kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah berdampak pada terganggunya kesehatan dan ketersediaan pakan hewan ternak di Provinsi Kalimantan Selatan.
Menyikapi hal tersebut, Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Provinsi Kalimantan Selatan mengintensifkan langkah-langkah mitigasi guna melindungi populasi ternak di 13 kabupaten/kota. “Hingga saat ini, belum dilaporkan adanya kasus kematian maupun kejadian luar biasa (KLB) gangguan kesehatan ternak akibat kekeringan dan kabut asap. Tetapi langkah mitigasi harus kita ambil,” tegas Kepala Disbunnak Kalsel, Suparmi, Minggu (4/10).
Diakuinya peningkatan suhu lingkungan dan paparan kabut asap akibat karhutla berpotensi memengaruhi kondisi fisiologis ternak, di antaranya penurunan nafsu makan, dehidrasi, stres panas (heat stress), serta penurunan laju pertumbuhan dan produksi telur, terutama pada komoditas unggas. Selain itu, partikel debu dan abu pekat karhutla dapat mengiritasi saluran pernapasan hingga memicu peradangan pada paru-paru.
“Kondisi ternak yang melemah akibat kekurangan pakan dan air berkualitas juga membuatnya lebih rentan terserang infeksi sekunder. Langkah kewaspadaan ini sangat krusial mengingat Kalimantan Selatan menopang populasi komoditas strategis hewani yang sangat besar,” ujarnya.
Langkah-langkah mitigasi yang telah dilakukan antara lain, peternak diimbau untuk selalu memastikan ketersediaan air minum bersih secara kontinu, menjaga sirkulasi udara kandang, serta mencuci bersih hijauan pakan yang terpapar abu karhutla sebelum diberikan kepada ternak guna mencegah gangguan saluran pencernaan. Serta pengawasan terpadu antara dinas provinsi, dinas kabupaten/kota, petugas medik veteriner, dan peternak terus disiagakan di lapangan.
Tercatat komuditas sapi potong saat ini mencapai 119.416 ekor dimana jumlah terbanyak di Kabupaten Tanah Laut lebih dari 47.000 ekor; disusul Tanah Bumbu sebanyak 24.000 lebih dan Banjar 12.500 ekor, sisanya tersebar di 10 kabupaten/Kota. Sedangkan untuk komuditas ternak unggas terdiri dari ayam ras pedaging/ broiler dengan populasi 100.913.597 ekor dan 70% berada di Kabupaten Tanah Laut atau 70.949.885 ekor.
Sedangkan ayam ras petelur (layer) , saat ini mencapai 7.694.933 ekor, sebanyak 6.106.337 ekor (79,4%) dibudidayakan di Kabupaten Tanah Laut dan 990.462 ekor di Kota Banjarbaru. Komuditas ternak unggas unggulan yang sedang dikembangkan secara massif melalui Program SITI HAWA LARI (Sistim Integrasi Itik di Lahan Rawa dan Lahan Kering ) adalah Itik yang populasinya mencapai 3.353.221 ekor tersebar di 803 klaster dengan populasi terbesar berada di Kabupaten Hulu Sungai Utara. (L03)