BANJARBARU-Kondisi irigasi di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan terus mengalami penurunan fungsi dan sebagian dalam kondisi rusak. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalsel, perkuat langkah mitigasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan ketersediaan pasokan air untuk sektor pertanian, perikanan dan air baku kebutuhan masyarakat.
Hal ini dikemukakan Kepala Seksi Irigasi dan Air Baku Dinas PUPR Kalsel, Herry Ade Permana, Kamis (9/7). “Irigasi ini tiga jenis sesuai kewenangannya pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Kondisinya sebagian cukup memprihatinkan dan terjadinya penurunan fungsi, karena keterbatasan anggaran untuk pemeliharaan,” tuturnya.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri di tengah ancaman karhutla dan kebutuhan sektor pertanian, perikanan dan kebutuhan air baku yang membutuhkan pasokan air dari saluran irigasi terus menerus. Kemarau debit air di waduk, bendung maupun saluran irigasi berkurang. “Irigasi yang kurang terpelihara tentu akan berpengaruh pada kelancaran distribusi atau pasokan air untuk berbagai keperluan,” kata Herry.
Tercatat ada 7 daerah irigasi permukaan dan 34 daerah irigasi rawa yang menjadi kewenangan provinsi Kalsel. Namun, keterbatasan anggaran menyebabkan sebagian jaringan irigasi mengalami penurunan fungsi sehingga membutuhkan penanganan segera. “Jika kita bicara ketahanan pangan, maka jaringan irigasi ini harus menjadi prioritas,” ujarnya.
Herry mengatakan cuma jaringan irigasi Riam Kanan dalam kondisi baik karena terus dipelihara. Itu pun pemeliharaan atau pembersihan saluran irigasi terakhir dilakukan lima tahun yang lalu. Selebihnya kondisi saluran irigasi di Kalsel dalam kondisi kurang baik.
Herry menjelaskan, PUPR Kalsel juga telah menyusun konsep penanganan kawasan rawan kekeringan berdasarkan hasil kajian bersama Universitas Brawijaya. Kajian tersebut menghasilkan pola penanganan yang dibagi dalam beberapa zona sesuai karakteristik wilayah.
Menurutnya, pengalaman menghadapi El Nino pada 2023 menjadi acuan penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan. Berbagai pekerjaan fisik telah dilakukan, mulai dari pembangunan fasilitas pengendali air, perbaikan saluran irigasi, hingga normalisasi atau pendalaman saluran yang rutin dilaksanakan setiap tahun.
Tak hanya itu, PUPR Kalsel juga berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk sektor kehutanan, dalam menjaga kawasan sekitar Bandara Syamsudin Noor agar tetap memiliki kecukupan air. Salah satu langkahnya adalah membuka pintu air tertentu sejak Mei 2026 untuk menjaga kelembapan lahan dan mencegah kawasan tersebut mengalami kekeringan.
Sebelumnya Gubernur Kalsel, Muhidin telah meminta kesiapsiagaan lintas sektor dalam menghadapi ancaman kekeringan dan karhutla akibat Elnino. Kalsel saat ini ditetapkan dalam status siaga darurat bencana karhutla. (L03)