BANJARBARU-Kegiatan peringatan Hari Santri 2026 di Kalimantan Selatan berlangsung di tengah kepungan kabut asap. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalsel, Thamrin meminta seluruh pimpinan pondok pesantren memperhatikan ancaman dampak kabut asap terhadap santri dengan menerapkan protokol kesehatan.
“Melihat kondisi saat ini kita sangat prihatin. Kita mendoakan mudahan daerah (banua) terbebas dari kebakaran hutan dan lahan, dan masyarakat bisa beraktivitas secara baik dan nyaman. Perlu mitigasi dampak kabut asap di lingkungan pondok pesantren dengan menerapkan protokol kesehatan,” tutur Thamrin.
Ribuan santri dan para pimpinan Ponpes dari tiga kabupaten/kota yaitu kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru dan Kabupaten Banjar mengikuti Peringatan Hari Santri 2026 yang mengusung tema Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas. Kegiatan yang dipusatkan di halaman Asrama Haji Syamsudin Noor ini berjalan lancar meski di tengah kepungan asap.
Menurut Thamrin, tema Hari Santri 2026 menekankan bahwa santri tidak hanya sebagai santri/pelajar tetapi sebagai agen perubahan “Dia juga dicetak menjadi seorang pengusaha, sebagai seorang birokrat. Mengikuti program pemberdayaan ekonomi umat sehingga begitu mereka keluar mereka juga bisa mandiri dan bisa berwirausaha untuk masa depannya,” kata Thamrin.
Peringatan Hari Santri 2026 di Kalsel ditandai dengan pemberian piagam penghargaan kepada 58 Pondok Pesantren, serta paket bingkisan dari Anggota Komisi IX DPR RI asal Kalsel, Mariana.
Pantauan Media, kabut asap pekat terus menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Kalsel, akibat Karhutla yang terus berlangsung. Pekatnya kabut asap menyebabkan jarak pandang para pengendara terbatas dan kerap memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas.
Ahmad Zulfian Noor, Branch Communication & CSR Department Head, Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru, mengatakan pekatnya kabut asap pada Kamis (22/10) menyebabkan jarak pandang menurun sehingga sejumlah jadwal penerbangan pagi hari dari dan ke Bandara Syamsudin Noor tergganggu. (L03)