Pengelolaan Geosite Geopark Pegunungan Meratus Belum Optimal

750 x 100 AD PLACEMENT

 

BANJARBARU-Status UNESCO Global Geopark Pegunungan Meratus di Provinsi Kalimantan Selatan terancam akibat belum optimalnya pengelolaan 54 situs (Geosite) yang tersebar di kabupaten/kota serta minimnya dampak positif bagi masyarakat lokal dan lingkungan.

Hal ini terungkap dalam Rapat Koordinasi Teknis Pengelola Situs Meratus UGGp yang berlangsung 21-24 September 2026 di Banjarbaru. “Perlu ada keseriusan semua pihak khususnya SKPD yang punya peran penting dalam pengembangan Geopark. Jangan sampai perjuangan dan keberhasilan mendapatkan status UGGp dari Unesco jadi sia-sia dan statusnya dicabut,” ungkap Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asisten II) Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Ariadi Noor, Selasa (22/9).

Ditegaskan Ariadi Noor, program nyata yang sejalan dengan tujuan geopark berupa aspek perlindungan geologi, keanekaragaman hayati, budaya serta aspek kebermanfaatan bagi masyarakat di sekitar kawasan pegunungan Meratus perlu disiapkan sejak dini agar status Meratus sebagai UNESCO Global Geopark dapat dipertahankan.

750 x 100 AD PLACEMENT

“Pengembangan tersebut diharapkan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar melalui pertumbuhan UMKM, homestay hingga pemandu wisata. Karena itu, Pemprov Kalsel mendorong sinergi lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, dunia usaha dan organisasi pariwisata,” ujarnya.

Sejauh ini diakui pengembangan Geopark Meratus masih kurang optimal dan menghadapi banyak tantangan antara lain jaringan komunikasi di wilayah blankspot, pembangunan infrastruktur menuju kawasan terpencil/geosite hingga perlindungan lingkungan dan kehutanan.

Ariadi juga menekankan pentingnya mengubah strategi promosi Meratus UGGp dengan menyasar wisatawan mancanegara, tidak hanya wisatawan domestik. Terlebih Geopark Meratus memiliki banyak keunggulan, karakter wisata yang berbeda dengan mengandalkan keunikan alam, geologi, keanekaragaman hayati hingga potensi penelitian menjadi daya tarik yang dapat dikembangkan untuk pasar internasional.

Kepala Dinas Pariwisata Kalsel, Iwan Fitriady selaku Ketua Harian Badan Pengelola Geopark Meratus, mengatakan pengelolaan Meratus UGGp saat ini mencakup 54 situs yang tersebar di enam wilayah. Meliputi Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tapin dan Hulu Sungai Selatan.

750 x 100 AD PLACEMENT

“Kami berharap pemerintah daerah di mana titik lokasi (geosite) berada betul-betul bersinergi dengan pemerintah provinsi untuk menjaga kelestarian situs-situs tersebut,” katanya. Pengembangan dan pengelolaan geosite Geopark Meratus tidak semata bertujuan mempertahankan status UGGp tetapi juga memiliki tujuan utama melestarikan warisan bumi sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat lokal di sekitar situs.

Geopark Meratus mendapatkan pengakuan status UGGp pasa 2025 dan akan menghadapi revalidasi dan reevaluasi dari Unesco pada 2028. (L03) Pengelolaan Geosite Geopark Pegunungan Meratus Belum Optimal

BANJARBARU, (L):
Status UNESCO Global Geopark Pegunungan Meratus di Provinsi Kalimantan Selatan terancam akibat belum optimalnya pengelolaan 54 situs (Geosite) yang tersebar di kabupaten/kota serta minimnya dampak positif bagi masyarakat lokal dan lingkungan.

Hal ini terungkap dalam Rapat Koordinasi Teknis Pengelola Situs Meratus UGGp yang berlangsung 21-24 September 2026 di Banjarbaru. “Perlu ada keseriusan semua pihak khususnya SKPD yang punya peran penting dalam pengembangan Geopark. Jangan sampai perjuangan dan keberhasilan mendapatkan status UGGp dari Unesco jadi sia-sia dan statusnya dicabut,” ungkap Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asisten II) Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Ariadi Noor, Selasa (22/9).

750 x 100 AD PLACEMENT

Ditegaskan Ariadi Noor, program nyata yang sejalan dengan tujuan geopark berupa aspek perlindungan geologi, keanekaragaman hayati, budaya serta aspek kebermanfaatan bagi masyarakat di sekitar kawasan pegunungan Meratus perlu disiapkan sejak dini agar status Meratus sebagai UNESCO Global Geopark dapat dipertahankan.

“Pengembangan tersebut diharapkan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar melalui pertumbuhan UMKM, homestay hingga pemandu wisata. Karena itu, Pemprov Kalsel mendorong sinergi lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, dunia usaha dan organisasi pariwisata,” ujarnya.

Sejauh ini diakui pengembangan Geopark Meratus masih kurang optimal dan menghadapi banyak tantangan antara lain jaringan komunikasi di wilayah blankspot, pembangunan infrastruktur menuju kawasan terpencil/geosite hingga perlindungan lingkungan dan kehutanan.

Ariadi juga menekankan pentingnya mengubah strategi promosi Meratus UGGp dengan menyasar wisatawan mancanegara, tidak hanya wisatawan domestik. Terlebih Geopark Meratus memiliki banyak keunggulan, karakter wisata yang berbeda dengan mengandalkan keunikan alam, geologi, keanekaragaman hayati hingga potensi penelitian menjadi daya tarik yang dapat dikembangkan untuk pasar internasional.

Kepala Dinas Pariwisata Kalsel, Iwan Fitriady selaku Ketua Harian Badan Pengelola Geopark Meratus, mengatakan pengelolaan Meratus UGGp saat ini mencakup 54 situs yang tersebar di enam wilayah. Meliputi Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tapin dan Hulu Sungai Selatan.

“Kami berharap pemerintah daerah di mana titik lokasi (geosite) berada betul-betul bersinergi dengan pemerintah provinsi untuk menjaga kelestarian situs-situs tersebut,” katanya. Pengembangan dan pengelolaan geosite Geopark Meratus tidak semata bertujuan mempertahankan status UGGp tetapi juga memiliki tujuan utama melestarikan warisan bumi sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat lokal di sekitar situs.

Geopark Meratus mendapatkan pengakuan status UGGp pasa 2025 dan akan menghadapi revalidasi dan reevaluasi dari Unesco pada 2028. (L03)

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukai :