Nenek ST Aminah Wujudkan Impian Haji dari Hasil Jualan Jamu, Kisah Ketekunan yang Menginspirasi

750 x 100 AD PLACEMENT

BANJARBARU – Perjalanan menuju Tanah Suci tidak selalu dimulai dari kemapanan. Bagi Nenek ST Aminah (76), perjalanan itu justru berangkat dari langkah-langkah kecil yang dijalani setiap hari: meracik dan menjajakan jamu tradisional dari kampung ke kampung.

 

Di usianya yang tidak lagi muda, Nenek Aminah membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih panggilan suci. Bertahun-tahun ia menabung dari hasil jualan jamu keliling, menyisihkan sebagian kecil penghasilannya dengan penuh disiplin dan kesabaran.

750 x 100 AD PLACEMENT

“Alhamdulillah, saya tidak pernah menyangka bisa sampai ke titik ini. Dari jualan jamu yang hasilnya tidak seberapa, saya hanya menyisihkan sedikit demi sedikit. Yang penting niatnya lurus dan tidak putus berdoa,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Rutinitas yang dijalani Nenek Aminah bukanlah hal yang mudah. Setiap hari ia berkeliling sejauh kurang lebih 7 kilometer dengan sepeda, menyusuri desa dan wilayah sekitar untuk menawarkan jamu kepada pelanggan. Aktivitas tersebut justru membuat kondisi fisiknya tetap prima. Tim pemeriksa kesehatan menilai kesehatannya dalam kategori baik, mulai dari tekanan darah, kadar gula darah, hingga hemoglobin.

“Saya jualan naik sepeda, sehari kurang lebih 7 kilometer, keliling desa sampai ke desa tetangga,” katanya.

Perjalanan panjang itu tidak berhenti saat ia berhasil mendaftar haji. Nenek Aminah tercatat mendaftar pada tahun 2012 dan harus menunggu antrean keberangkatan selama bertahun-tahun. Dalam masa penantian tersebut, ia juga menghadapi cobaan dengan wafatnya sang suami pada tahun 2021. Namun, dengan dukungan anak-anak serta hasil jerih payahnya berjualan jamu, ia tetap melanjutkan perjuangannya.

750 x 100 AD PLACEMENT

“Saya mendaftar haji tahun 2012. Suami meninggal tahun 2021. Sebagian biaya dibantu anak-anak dan dari jualan jamu. Saya percaya kalau Allah memanggil, pasti ada jalannya. Saya jalani saja dengan sabar, ikhlas, dan terus berusaha,” tuturnya.

Kisahnya menjadi cerminan bahwa ibadah haji bukan semata tentang kemampuan finansial, tetapi juga tentang keteguhan niat dan konsistensi dalam berusaha. Di tengah gaya hidup modern yang serba instan, perjuangan Nenek Aminah menghadirkan pelajaran tentang arti kesabaran dan keikhlasan.

Dari 16 anak yang dilahirkannya, enam di antaranya telah meninggal dunia. Sementara itu, dari sepuluh anak yang ada, beberapa di antaranya telah berhasil meniti karier sebagai aparatur sipil negara (ASN) dan tenaga kesehatan.

“Saya menikah muda, umur 14 tahun. Alhamdulillah, anak-anak ada yang berhasil menjadi PNS dan perawat,” ungkapnya.

750 x 100 AD PLACEMENT

Lebih jauh, kisah ini mengandung pesan moral yang kuat. Di saat sebagian orang merasa ragu atau menunda niat berhaji karena keterbatasan, Nenek Aminah justru menunjukkan bahwa langkah kecil yang dilakukan secara konsisten mampu menghasilkan sesuatu yang besar.

“Pesan saya, jangan pernah merasa tidak mampu. Kalau punya niat baik, mulai saja dulu. Sedikit-sedikit lama-lama jadi, yang penting istiqamah,” pesannya.

Perjalanan Nenek ST Aminah bukan sekadar kisah tentang keberangkatan haji, melainkan juga tentang harapan, kerja keras, dan keyakinan. Ia membuktikan bahwa mimpi besar dapat diraih melalui ketekunan dalam menjalani hal-hal kecil setiap hari. (L30)

 

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukai :