Nelayan Tanah Bumbu Hadapi Kendala BBM dan Es

750 x 100 AD PLACEMENT

 

 

BATULICIN-Produksi ikan hasil tangkapan nelayan pesisir Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan menjadi pemasok utama ke provinsi lain di regional Kalimantan. Namun ribuan nelayan menghadapi kendala minimnya kuota BBM jenis soal dan ketersediaan es untuk pengawetan ikan.

 

750 x 100 AD PLACEMENT

Data Pelabuhan Perikanan Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, mencatat wilayah ini menjadi salah satu pemasok ikan untuk memenuhi kebutuhan pasar regional. Distribusinya menjangkau sejumlah daerah di Kalimantan, mulai dari Banjarmasin, Palangkaraya, Balikpapan, Samarinda, hingga Pontianak, Kalimantan Barat.

 

Berdasarkan rekapitulasi Surat Keterangan Angkut Ikan (SKAI) Pelabuhan Perikanan Batulicin, total distribusi ikan selama Januari hingga September 2026 mencapai 3.158.042 kilogram atau sekitar 3.158 ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.517 ton ikan didistribusikan ke luar Kabupaten Tanah Bumbu.

 

750 x 100 AD PLACEMENT

Kepala Pelabuhan Perikanan Batulicin, Akhmad Syarwani, Minggu (18/10), menyebut terdapat 123 kapal yang tercatat beroperasi, terdiri atas 91 kapal pengangkut dan 32 kapal penangkap ikan. “Rata-rata kapal yang beroperasi mencapai 104 unit per bulan, dengan aktivitas harian sekitar tiga hingga empat kapal. Selain pasar regional Kalimantan, pengiriman ikan menggunakan angkutan truk menuju sejumlah kota di luar pulau, seperti Surabaya, Jakarta, dan Makassar,” ujar Syarwani.

 

Diakui Syarwani, produksi ikan ini cenderung menurun. Selain faktor cuaca, para nelayan masih menghadapi kendala dalam pemenuhan kebutuhan es untuk pengawetan ikan dan BBM jenis solar bagi nelayan. Fasilitas pabrik es yang ada di kawasan pelabuhan masih dikelola swasta dengan kapasitas sekitar enam ton per hari. Padahal, kebutuhan es untuk mendukung aktivitas perikanan idealnya mencapai 20 hingga 30 ton setiap hari.

 

750 x 100 AD PLACEMENT

Selain es, keterbatasan pasokan solar juga menjadi kendala operasional. Pelabuhan Perikanan Batulicin saat ini memperoleh alokasi solar sekitar 70 ton per bulan, sedangkan kebutuhan yang diperkirakan diperlukan mencapai 150 ton per bulan.

 

Senada, Muhammad Maulana, seorang nelayan pesisir Tanah Bumbu, mengatakan kendala penyediaan BBM solar dan es ini sudah berlangsung sejak lama. “Tentunya BBM dan es yang terbatas berpengaruh pada produktivitas nelayan. Intensitas kami melaut jadi berkurang karena sangat bergantung pada jatah BBM yang terbatas. Demikian juga dengan ketersediaan es yang tidak mencukupi dan harus berbagi dengan pedagang ikan yang juga memerlukan es dalam jumlah besar untuk pasokan ke luar daerah,” tuturnya. (L03)

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukai :