BANJARMASIN-Kemarau panjang dan interusi air laut menyebabkan semakin terbatasnya sumber air baku dan menurunnya produksi air bersih PAM Bandarmasih hingga 50 persen. Sejak sebulan terakhir puluhan ribu warga Banjarmasin terpaksa mengkonsumsi air pasokan PAM Bandarmasih yang berasa asin.
Pantauan Media, pasokan air yang didistribusikan PAM Bandarmasih ke rumah-rumah warga mengandung kadar garam tinggi dan berasa payau sejak beberapa waktu terakhir. Sebagian terpaksa mengkonsumsi air dengan rasa asin dan sebagian lainnya harus membeli air kemasan (galon).
Kondisi ini dipicu interusi air laut pada sumber air baku dari Sungai Martapura, akibat kemarau panjang. Sementara pasokan air dari sumber air Sungai Tabuk terus berkurang karena kemarau dan bahkan sumber air irigasi Riam Kanan terhenti.
Direktur Utama PAM Bandarmasih, Zulbadi, beberapa waktu lalu mengatakan pihaknya terus memasok kebutuhan air kepada warga namun untuk keperluan MCK yang menjadi kebutuhan paling mendesak selama kondisi tersebut. Pihaknya juga memberikan layanan penyaluran air melalui mobil tangki dan tandon di sejumlah lokasi untuk mengatasi krisis air.
“PAM Bandarmasih memutuskan tetap mengalirkan air ke wilayah terdampak dengan status non-konsumsi. Air tersebut tetap melalui proses pengolahan di instalasi pengolahan air (IPA), tetapi kualitas air baku yang digunakan membuat hasil akhirnya tidak diperuntukkan bagi kebutuhan minum dan memasak,” tuturnya.
Terkait krisis air bersih ini, Dinas Sosial Provinsi Kalsel juga telah menyalurkan air bersih ke sejumlah wilayah terdampak seperti Kota Banjarmasin. Kepala Seksi Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS) Bidang Penanggulangan Bencana, Yoefi Fahromi, mengatakan penyaluran air bersih dilakukan sebagai bentuk respons pemerintah terhadap masyarakat yang membutuhkan dukungan dalam pemenuhan kebutuhan dasar.
BPBD Kalsel mencatat kekeringan dan krisis air bersih alami masyarakat di hampir seluruh kabupaten/kota di Kalsel. Kabupaten Banjar, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan, Barito Kuala dan Kotabaru merupakan daerah terparah mengalami kekeringan dan krisis air bersih.
Kepala BPBD Banjar, Wasis Nugraha, mengatakan saat ini ada 68 desa yang tersebar pada 12 kecamatan di wilayahnya mengalami kekeringan dan krisis air bersih. “Kekeringan sudah berlangsung sejak Juli 2026 dan terus meluas. Jumlah air bersih yang kita salurkan lebih dari dua juta liter. Namun saat ini kita juga dihadapkan pada semakin terbatasnya sumber air akibat kemarau,” ujarnya. (L03)