BANJARBARU-Upaya peningkatan ketahanan pangan melalui inovasi budidaya padi apung di lahan rawa di sejumlah wilayah Provinsi Kalimantan Selatan dinilai cukup berhasil. Produktivitas padi apung mencapai 6,5 ton perhektare.
“Inovasi kita melalui padi apung
menunjukkan hasil menggembirakan. Pemanfaatan lahan rawa untuk padi apung bertujuan mendukung ketahanan pangan di Kalimantan Selatan,” ungkap Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kalsel, Syamsir Rahman, Rabu (24/6).
Beberapa waktu lalu, pengembangan padi apung di Desa Margasari Hilir, Kecamatan Candi Laras Utara, Kabupaten Tapin, menunjukkan keberhasilan dengan panen mencapai 6,5 ton perhektare. “Keberhasilan ini membuktikan bahwa lahan rawa yang selama ini memiliki berbagai tantangan tetap dapat dioptimalkan sebagai sumber produksi pangan melalui penerapan teknologi dan pendampingan yang tepat,” ujar Syamsir.
Padi apung adalah inovasi budidaya tanaman padi di atas media rakit apung (streopom) menggunakan pot atau wadah tanam, yang dirancang khusus untuk beradaptasi dengan kondisi lahan rawa pasang surut. Sistem ini memungkinkan petani tetap menanam padi dan panen saat musim banjir atau genangan tinggi.
Meski belum secara massal, padi apung kini dikembangkan di kawasan lahan rawa di sejumlah daerah seperti Barito Kuala, Banjar, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara dan Tabalong.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Setda Tapin, Zainal Abidin, berharap keberhasilan panen tersebut dapat menjadi motivasi bagi petani lainnya untuk terus meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. (L03)