
BANJARMASIN, – Sampah menjadi masalah utama yang dihadapi kota-kota di dunia, termasuk Kota Banjarmasin di Provinsi Kalimantan Selatan. Edukasi tentang pengelolaan sampah mulai dari skala rumah tangga perlu diperkuat.
Direktur Bank Sampah Induk Kota Banjarmasin, Faturahman, Senin (24/6) mengatakan sampah menjadi masalah bersama dimana timbunan sampah yang cenderung terus bertambah, merupakan problem laten. “Sampah yang tidak tertangani dengan benar akan menjadi sumber pencemaran, baik di darat maupun perairan seperti sungai dan laut. Terutama sampah plastik,” ujarnya.
Menurut Faturahman dalam beberapa tahun terakhir mulai muncul gerakan atau kesadaran masyarakat dalam penanganan sampah skala rumah tangga, maupun komunitas-komunitas lingkungan dan kelompok peduli soal persampahan. “Ini perlu diperkuat melalui kebijakan pemda serta edukasi di tingkat tapak sebagai bentuk komitmen bersama dalam upaya memerangi masalah sampah,” tambah Faturahman.
Selama ini program penanganan sampah yang dilakukan pemerintah belum menyentuh kepada akar atau sumber masalah. Yaitu pemahaman masyarakat tentang sampah dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. “Banyak yang telah dilakukan pemerintah tetapi belum menyentuh ke akar masalah. Memang penanganan sampah harus melibatkan partisipasi masyarakat,” sambungnya.
Fakta di lapangan masih banyak masyarakat yang belum memiliki kesadaran dengan membuang sampah sembarangan maupun membuang sampah ke sungai. Berdasarkan Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2022 tercatat jumlah timbunan sampah nasional mencapai angka 21,1 juta ton.
Dari jumlah tersebut sebanyak 65.71% (13.9 juta ton) sampah dapat terkelola dan sisanya 34,29% (7,2 juta ton) belum terkelola dengan baik. Lembaga Sustainable Waste Indonesia (SWI) menyebutkan, dari total sampah nasional per tahun, lima persen (3,2 juta ton) merupakan sampah plastik.
Kalsel sendiri menurut data 2023 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi, setiap harinya menyumbang tak kurang dari 2.100 ton sampah dan terbesar berasal dari Kota Banjarmasin. Sebagian dari produksi sampah tersebut belum tertangani. (L03)