WALAU tak semasif Pulau Jawa dan Sumatera, perlahan industri kopi lokal di Kalimantan Selatan semakin menggeliat. Para petani tidak lagi terfokus pada perkebunan atau sektor hulu tetapi mulai melirik industri hilir berupa pengolahan pasca panen, pemasaran hingga bisnis kedai kopi.
Seperti dilakukan Kelompok Tani Hutan (KTH) Gunung Batuah dari Desa Santuun, Kecamatan Muara Uya sejak beberapa waktu lalu melakukan studi tiru ke berbagai daerah untuk belajar bisnis kopi dari hulu hingga hilir. “Kami melihat prospek komoditas kopi ini cukup baik dan kami ingin para petani tidak hanya sekadar berkebun tetapi juga dapat mengembangkan sektor hilirnya, termasuk bisnis kedai kopi atau kafe,” kata Arbain, Ketua KTH Gunung Batuah.
Salah satu lokasi studi tiru yang dikunjungi para petani di wilayah terpencil Kabupaten Tabalong ini adalah Biji Kopi Borneo Banjarbaru yang memiliki kebun edukasi sekaligus sentra pengolahan dan kedai kopi. “Kami mendorong agar petani tidak hanya terfokus pada sektor hulu berkebun saja, tetapi juga menguasai sektor hilir mulai pengolahan, pemasaran termasuk memiliki bisnis kedai kopi karena margin keuntungannya jauh lebih besar,” ujar Dwi Putera Kurniawan, owner Biji Kopi yang juga Ketua SPI Kalsel.
Desa Santuun dikenal sebagai salah satu desa pemasok buah-buahan lokal khas hutan Kalimantan, termasuk desa penghasil kopi di Kabupaten Tabalong. Desa ini hanya berjarak lima kilometer dari perbatasan Kalimantan Timur dan berada di bagian utara atau kaki Pegunungan Meratus.
M Saferiansyah, Staf Penyuluh Kehutanan dari Kesatuan Pengelolan Hutan (KPH) Tabalong, mengatakan di desa ini ada sekitar 30 hektare kebun kopi dan sebagian sudah berproduksi. Ada dua jenis yang ditanam para petani Desa Santuun yaitu kopi lokal jenis robusta dan liberika, meski produksinya masih terbatas.
KTH Gunung Batuah, Desa Santuun dibentuk pada 2017 dan mendapat izin dari KLHK pada 2019 dengan skema hutan kemitraan seluas 100 hektar. “Beberapa program pengembangan sempat gagal seperti komoditas kemiri (keminting). Kini kita mencoba pengembangan kopi dan mulai berjalan termasuk buah-buahan lokal dan ekowisatanya,” tutur Saferiansyah.
Selain Santuun beberapa desa di Kabupaten Tabalong mulai mengembangkan perkebunan kopi, seiring membaiknya prospek bisnis komoditas kopi saat ini. (L03)