Pemberdayaan Masyarakat Kunci Atasi Karhutla

750 x 100 AD PLACEMENT

BANJARBARU, – Pemberdayaan masyarakat merupakan kunci untuk menekan maraknya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang dipicu aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar. Karhutla di Provinsi Kalimantan Selatan terus terjadi di sejumlah daerah.

Hal ini disampaikan Ketua Pusat Studi Bencana Universitas Lambung Mangkurat, Sidharta Adiyatma, Minggu (22/9). “Sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat di lapangan adalah kunci untuk meminimalisir maraknya peristiwa Karhutla yang terjadi setiap musim kemarau,” tuturnya.

Selama ini praktik pembukaan lahan dengan cara membakar sering dilakukan karena dianggap murah dan efisien untuk pertanian dan perkebunan, baik oleh masyarakat (petani) maupun korporasi. Padahal praktik membakar lahan ini mempunyai dampak negatif yang signifikan terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan ekonomi.

750 x 100 AD PLACEMENT

“Pembukaan lahan dengan membakar menyebabkan kerusakan ekosistem, polusi udara, bencana asap yang mempengaruhi hubungan antar negara, aktivitas ekonomi, pariwisata, kesehatan, pendidikan dan lainnya. Membakar lahan juga justru mengurangi kesuburan tanah dalam jangka panjang,” ungkap Sidharta.

Di sisi lain teknik membuka lahan dengan tidak membakar yang digencarkan pemerintah tidak dapat berjalan dengan baik, karena lemahnya penegakan hukum dan kurangnya sosialisasi serta pemberdayaan masyarakat. “Perlu pengawasan melibatkan tokoh masyarakat dengan insentif, pemberian sanksi, dan penalti terhadap perusahaan atau individu yang melanggar aturan, dan pemberdayaan masyarakat dalam penerapan teknik pertanian ramah lingkungan,” tambahnya.

Pemberdayaan masyarakat dapat berupa penyediaan peralatan pertanian, melakukan agroforestry dan tebang pilih dengan difasilitasi pemerintah yang memungkinkan pembukaan lahan tanpa merusak lingkungan secara signifikan. Termasuk pemberdayaan pada program restorasi gambut untuk merehabilitasi lahan rusak akibat kebakaran, seperti penanaman kembali hutan (reforestasi) tanaman yang dapat dipanen getah, bunga, buah atau daunnya tanpa mengambil kayunya.

Pada bagian lain Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalsel, Muhammadun mengatakan penerapan kurikulum muatan lokal pelestarian ekosistem gambut di sekolah-sekolah di Kalsel diharapkan dapat meningkatkan kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga lingkungan. “Kesadaran ini pada akhirnya dapat membantu menjaga ekosistem gambut dan lingkungan secara umum, mencegah karhutla dan mitigasi bencana lainnya,” ujarnya.

750 x 100 AD PLACEMENT

Data Pusdalops BPBD Kalsel, pada Sabtu (21/9) terjadi karhutla di empat daerah yaitu Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Balangan dan Tanah Laut. Luas lahan terbakar mencapai puluhan hektare. (L03)

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukai :