JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kembali mempercepat pemanfaatan perangkat digital di sekolah melalui program Alumni Pejuang Digital dengan menerjunkan 150 alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ke 150 sekolah dasar di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) dan daerah khusus. Langkah ini dilakukan untuk memastikan lebih dari 288 ribu _Interactive Flat Panel_ (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID) yang telah didistribusikan oleh pemerintah benar-benar digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Program ini diawali dengan pembekalan intensif selama 9 hari pada 29 Maret hingga 6 April 2026 di Jakarta. Alumni Pejuang Digital merupakan gerakan kolaboratif yang menghubungkan kebijakan nasional dengan praktik nyata di lapangan. Para alumni membawa beragam latar belakang keilmuwan dan pengalaman global untuk menjawab kebutuhan lokal pendidikan di Indonesia.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengungkapkan bahwa masih ada satuan pendidikan yang belum memanfaatkan IFP secara optimal. Padahal, digitalisasi pembelajaran merupakan amanat besar yang harus diwujudkan secara bersama-sama demi peningkatan kualitas pendidikan.
“Kehadiran saudara sebagai peserta Program Pengabdian Alumni Pejuang Digital menjadi sangat penting untuk menjembatani kesenjangan antara teknologi dan praktik belajar. “Teknologi tidak boleh berhenti sebagai alat. Ia harus menghadirkan pembelajaran yang _mindful_ (berkesadaran), _meaningful_ (bermakna) dan _joyful_ (menggembirakan),” ujar Mendikdasmen saat membuka kegiatan di Jakarta, Senin (30/3).
Selama tiga bulan penugasan, setiap alumni akan fokus di satu sekolah, membangun lingkungan belajar berbasis digital dari dalam. Pendampingan tidak hanya berlangsung di kelas, tetapi juga menyentuh aspek manajerial sekolah hingga pengimbasan ke sekolah lain di sekitarnya sehingga dampaknya meluas pada tingkat kecamatan hingga daerah.
Sebanyak 150 sekolah sasaran tersebar di empat kabupaten, yaitu Sumedang (Jawa Barat), Kupang (Nusa Tenggara Timur), Halmahera Utara (Maluku Utara), dan Merauke (Papua Selatan). Sekolah-sekolah ini dipilih secara terukur, dengan mempertimbangkan wilayah 3T, ketersediaan perangkat digital serta kebutuhan peningkatan literasi dan numerasi.
Sebelum terjun ke lapangan, para peserta dibekali pelatihan intensif selama 9 hari dengan total 63 jam pelajaran. Materi yang akan diberikan tidak hanya teknis, tetapi juga mencakup pedagogi, literasi digital, komunikasi lintas budaya, hingga _coaching_ bagi guru. Pembekalan ini dirancang agar para alumni mampu beradaptasi dengan kondisi daerah sekaligus menjadi katalis perubahan di sekolah.
Semangat ini terlihat dari para peserta yang hadir. Fitri Mardikas Teddy, alumni _Master of International Relations_ dari University of Groningen, Belanda, mengaku tergerak mengikuti program ini sebagai bentuk tanggung jawab kepada negara. “Bagi saya ini bukan sekadar mengikuti program tapi bentuk pengabdian. Saya percaya pendidikan bisa mengubah masa depan seseorang. Saya ingin anak-anak di mana pun berada punya kesempatan yang sama untuk bermimpi dan mencapainya,” ujar Fitri.
Hal serupa juga disampaikan oleh alumni University of Glasgow, jurusan _Media Digital and Society_, Hikmahshanty Suci Larasati. Ia melihat program ini sebagai kesempatan untuk memberi dampak yang lebih luas dan berkelanjutan. “Digitalisasi bukan soal alat saja, tapi bagaimana pengetahuan itu bisa terus hidup dan dibagikan. Saya ingin membantu para guru dan siswa untuk percaya dan berani mengemukakan pendapat saat dalam kelas,“ katanya. Pengalaman belajar di luar negeri membuatnya percaya bahwa kelas yang baik adalah ruang dialog, tempat guru dan siswa sama-sama aktif, saling belajar dan tumbuh bersama.(L03)