Menteri LH Sentil Kebiasaan Bakar Sampah di Ciamis: Kelola di Hulu atau Wariskan Bencana

750 x 100 AD PLACEMENT

 

Ciamis – Langkah kaki Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, menyusuri gang sempit di kawasan Bolenglang, Kabupaten Ciamis, bukan sekadar kunjungan seremonial. Di balik tembok-tembok permukiman padat tersebut, Menteri Hanif mendapati realitas pahit yang menjadi rapor merah bagi tata kelola sampah di tingkat tapak: sampah rumah tangga yang masih dibuang ke sungai dan kepulan asap dari pembakaran sampah mandiri yang mencemari udara. Temuan ini menjadi alarm keras bahwa meskipun secara administratif capaian pengelolaan sampah daerah terlihat memuaskan, namun di level hulu, perilaku masyarakat masih terjebak dalam pola lama yang merusak ekosistem menuju target zero waste.

Kehadiran Menteri Hanif langsung membedah akar persoalan dari pintu ke pintu. Meski beberapa warga telah memulai inisiatif pemilahan sampah untuk nilai ekonomi, kejujuran warga lainnya yang mengaku masih membuang sampah ke aliran sungai di depan rumah mereka menjadi catatan  penting bagi efektivitas layanan infrastruktur sampah setempat. Praktik pembakaran sampah karena keterbatasan akses pengangkutan mempertegas adanya kesenjangan antara kebijakan di atas kertas dengan realitas di gang-gang sempit yang luput dari jangkauan pelayanan formal.

Menanggapi kontradiksi tersebut, Menteri Hanif menegaskan bahwa penguatan peran masyarakat dan komitmen pemerintah daerah adalah dua sisi mata uang yang tidak boleh terpisahkan. Ia menilai Kabupaten Ciamis memiliki modalitas yang baik secara makro, namun kegagalan dalam menyentuh titik-titik mikro permukiman akan menghambat visi besar penyelesaian sampah dari sumbernya. Pengelolaan sampah yang tidak tuntas di tingkat hulu hanya akan memindahkan beban lingkungan ke hilir yang lebih berbahaya dan berbiaya mahal.

750 x 100 AD PLACEMENT

“Secara makro nilainya bagus dalam pengelolaan sampah, tetapi hasil peninjauan kita di beberapa spot harus ditingkatkan. Sebagian besar masyarakat juga belum mendapat layanan sampah di Ciamis ini. Jadi kalau kita lihat dari sisi penjelasan masyarakat, sampahnya ada yang masih dibakar secara mandiri. Ini perilaku yang harus ditingkatkan pembinaannya oleh Pemerintah Kabupaten,” ujar Menteri Hanif dengan nada tegas saat berdialog dengan warga.

Edukasi yang disampaikan Menteri Hanif di lapangan menekankan bahwa sungai bukanlah tempat pembuangan akhir, melainkan urat nadi ekosistem yang jika tersumbat oleh egoisme membuang sampah, akan berbalik menjadi bencana banjir dan polusi mikroplastik. Pendekatan persuasif yang dilakukan di sela-sela kunjungannya bertujuan untuk meruntuhkan jarak antara pemerintah dan warga, sekaligus menanamkan kesadaran bahwa kemandirian dalam memilah sampah di rumah adalah kunci utama solusi zero waste.

“Tanpa adanya keterlibatan aktif masyarakat di gang-gang permukiman, infrastruktur sampah secanggih apa pun yang dibangun pemerintah hanya akan menjadi monumen yang sia-sia,” jelas Menteri Hanif.

Kunjungan mendadak ini pada akhirnya menitipkan pesan kuat bagi Pemerintah Kabupaten Ciamis dan daerah lainnya di Indonesia: pengelolaan sampah tidak boleh hanya berhenti di jalan protokol, tetapi harus masuk hingga ke dapur-dapur warga. Pembinaan berkelanjutan dan perluasan jangkauan layanan sampah menjadi harga mati agar perilaku membakar dan membuang sampah ke sungai bisa dihentikan sepenuhnya.

750 x 100 AD PLACEMENT

“Kawasan permukiman adalah titik nol perjuangan lingkungan, di mana transformasi perilaku warga akan menjadi penentu apakah masa depan lingkungan kita akan lestari atau terkubur dalam timbunan residu yang tidak terkelola,” pungkas Menteri Hanif.{{L03}}

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukai :