
BANJARBARU, – Induk Koperasi Pondok Pesantren (Inkopontren) akan membangun sebanyak 1.509 dapur dengan alokasi anggaran mencapai Rp4,5 triliun untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di Provinsi Kalimantan Selatan Inkoponten mulai membangun tiga dapur MBG yang tersebar di Kota Banjarbaru dan Kabupaten Tanah Laut.
Hal ini dikemukakan Bendahara Umum Inkopontren, Muhammad Azhari di sela-sela kegiatan peletakan batu pertama pembangunan dapur MBG di Ponpes Misbahul Munir, kemaren. “Anggaran untuk pembangunan dapur MBG ini bersifat mandiri yang berasal dari dana swadaya seluruh pesantren di Indonesia. Anggaran sebesar Rp4,5 triliun untuk 1.509 titik dapur MBG di Indonesia,” tuturnya.
Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) MBG ini dibangun secara mandiri oleh Induk Koperasi Pondok Pesantren (Inkopontren), bekerja sama dengan Badan Gizi Nasional (BGN). “Kami berharap santri di setiap kabupaten dan kota dapat merasakan manfaat dari program MBG. Karena itu penting adanya penerima data manfaat yang jelas dan terukur di setiap wilayah,” tegasnya.
Di Kalsel saat ini mulai dibangun tiga MBG masing-masing di Pondok Pesantren (Ponpes) Misbahul Munir dan Ponpes Darul Ilmi, Kota Banjarbaru, serta Ponpes Nurul Hijrah Jorong, Kabupaten Tanah Laut. Pembangunan dapur MBG merupakan komitmen inkopontren dalam produksi dengan pemerintah.
Staf Ahli Gubernur Kalsel bidang Pembangunan, Adi Santoso, menyampaikan apresiasi kepada Badan Gizi Nasional dan Induk Koperasi Pondok Pesantren, serta seluruh pihak sehingga terbangunnya dapur MBG di Kalsel. “Kesuksesan program MBG dimulai dari pembangunan dapur yang memenuhi standar kelayakan, SDM kompeten dan manajemen yang memenuhi standar operasional,” ujar Adi Santoso.
Pemprov Kalsel mendorong agar keberadaan dapur MBG juga memberikan ruang bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar. Pemenuhan pasokan pangan akan melibatkan UMKM dan unit-unit usaha kecil di sekitar wilayah dapur MBG, maupun di cakupan pesantren itu sendiri.
Ketua Umum Induk Koperasi Pondok Pesantren (Inkopontren), Hapi Jazuli, mengatakan di Kalsel, program ini diproyeksikan memberikan manfaat signifikan bagi 286 pesantren, dengan total penerima manfaat utama mencapai 93.000 santri. Atau secara luas menyasar 765.000 penerima manfaat diseluruh Kalsel, termasuk siswa di luar lingkungan pesantren. (L03)