BANJARBARU-Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan berkomitmen mewujudkan provinsi tersebut sebagai Gerbang Logistik regional Kalimantan dan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara melalui pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Hal ini menjadi salah satu pokok bahasan utama dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tahun 2026 untuk penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027 yang digelar di Gedung Auditorium K.H. Idham Chalid, Banjarbaru, Selasa (7/4). Gubernur Kalsel, Muhidin menegaskan penguatan KEK menjadi salah satu arah strategis dalam pembangunan Kalimantan Selatan, seiring upaya pemerintah mendorong investasi, mempercepat hilirisasi industri, dan menciptakan lapangan kerja.
Muhidin, memaparkan rencana pengembangan KEK baru serta Pelabuhan Internasional Mekar Putih yang diproyeksikan menjadi salah satu pelabuhan terdalam di Indonesia. Menurutnya, proyek ini diharapkan mampu menarik investasi besar dan memperkuat posisi Kalimantan Selatan sebagai gerbang logistik regional.
“Rencana Pelabuhan Internasional Mekar Putih, di mana juga terdapat beberapa industri, menjadi gambaran dari Kawasan Ekonomi Khusus yang sedang kami dorong saat ini. Salah satu yang kami bangun adalah jembatan menuju pelabuhan yang direncanakan ke depan. Nilai investasinya diperkirakan hampir Rp40 triliun untuk Kawasan Ekonomi Khusus, sedangkan untuk jembatannya sekitar Rp6 triliun,” jelasnya.
Salah satu KEK yang dinilai cukup berhasil adalah KEK Setangga di Kalimantan Selatan yang telah menunjukkan perkembangan positif. KEK Setangga yang ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2024 dikembangkan sebagai kawasan industri dan manufaktur dengan fokus pada hilirisasi kelapa sawit, nikel, serta pengembangan pabrik komponen baterai lithium. Posisi ini menjadikan KEK Setangga strategis, tidak hanya bagi industrialisasi daerah, tetapi juga dalam mendukung agenda nasional peningkatan nilai tambah sumber daya alam.
Hingga Triwulan IV Tahun 2025, realisasi investasi KEK Setangga mencapai Rp3,676 triliun, sehingga total investasi kumulatif tercatat sebesar Rp5,310 triliun. Pada periode yang sama, serapan tenaga kerja kumulatif telah mencapai 1.600 orang. Capaian tersebut menunjukkan bahwa KEK Setangga telah bergerak dari tahap perencanaan menuju kawasan yang mulai menghasilkan dampak ekonomi nyata bagi Kalimantan Selatan.
Bagi Kalimantan Selatan, penguatan KEK dinilai sangat relevan karena daerah ini memiliki potensi besar untuk tumbuh sebagai pusat logistik, industri pengolahan, dan simpul investasi baru di kawasan. Pengembangan KEK diharapkan memberi manfaat langsung bagi daerah, mulai dari meningkatnya nilai tambah komoditas unggulan, terbukanya lapangan kerja, tumbuhnya usaha pendukung, hingga menguatnya konektivitas rantai pasok.
Dalam forum tersebut, Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus, menegaskan bahwa prioritas pembangunan tahun 2027 harus bertumpu pada peningkatan produktivitas, penguatan iklim investasi yang efisien, dan penguatan sektor industri berbasis hilirisasi. Arah kebijakan ini menjadi landasan penting bagi daerah untuk memperkuat sektor-sektor strategis yang mampu menciptakan nilai tambah dan mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Dukungan tersebut juga ditopang oleh kinerja KEK secara nasional yang terus menunjukkan hasil solid. Hingga Triwulan IV Tahun 2025, total investasi kumulatif pada 25 KEK mencapai Rp336 triliun dengan serapan tenaga kerja sebanyak 249.072 orang. Sepanjang tahun 2025, realisasi investasi mencapai Rp82,6 triliun, sementara capaian tenaga kerja mencapai 88.541 orang atau melampaui target awal sebesar 46.864 orang. Data ini memperkuat keyakinan bahwa KEK merupakan instrumen yang efektif untuk menarik investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah. (L03)