BANJARBARU-Ekspor Kalimantan Selatan pada Februari 2026 tercatat mengalami penurunan sebesar 2,58 persen yaitu US$800,02 juta, dibanding Januari 2026 sebesar US$821,22 juta. Pada bagian lain, harga aneka kebutuhan masyarakat terutama barang berbahan baku plastik melambung tinggi sebagai dampak perang timur tengah.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Kalsel mengalami penurunan 2,58 persen pada Februari dibanding Januari 2026. Ekspor Kalsel masih didominasi bahan bakar mineral (batu bara) 79,82 persen, diikuti sektor lemak/minyak nabati, 13,25 persen. Negara Tiongkok, India, dan Malaysia merupakan negara tujuan utama selain Korea Selatan, dan Amerika Serikat.
Sementara untuk impor Kalimantan Selatan pada Februari 2026 mencapai US$125,49 juta atau meningkat sebesar 82,82 persen dibandingkan dengan nilai impor Januari 2026 sebesar US$68,64 juta. “Tentu perang timur tengah akan ada pengaruh bagi banyak negara termasuk daerah kita. Namun secara umum masih aman dimana ekspor Kalsel didominasi tujuan negara asia,” ungkap Kepala Dinas Perdagangan Kalsel, Ahmad Bagiawan, Sabtu (4/4).
Sementara harga berbagai kebutuhan masyarakat di Kalsel terutama barang berbahan baku plastik mengalami lonjakan hingga dua kali lipat.
Kenaikan harga barang plastik saat ini seiring terjadinya konflik di Timur Tengah yang menyebabkan gangguan pasokan global dan memicu lonjakan harga minyak bumi dan bahan baku plastik (nafta). Disamping kondisi
pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Suzana pemilik Toko Plastik Suzana di Pasar Bauntung, Kota Banjarbaru mengatakan kenaikan harga barang-barang plastik sudah terjadi sejak Ramadhan lalu. “Naiknya 100 persen sekarang atau dua kali lipat, seperti cup plastik mulai dari harga Rp250.000-Rp280.000 sekarang jadi Rp500.000. Itu isinya ada 40 kemasan, tiap kemasan isi 50 cup eceran,” ujarnya.
Kemudian plastik jenis Thinwell yang sebelumnya Rp28.000 per pak saat ini jadi Rp40.000 dengan ukuran 1000 ml.
Sedangkan plastik atau kresek kecil yang biasanya Rp3.000 jadi Rp5.000, plastik tanggung dari Rp5.000 sekarang Rp8.000.
Para pedagang menyebut kenaikan harga ini tanpa ada tanda-tanda akan turun. Kondisi ini dinilai akan
memberatkan beban operasional, terutama bagi para pelaku UMKM kuliner yang sangat bergantung pada kemasan plastik. (L03)