Saat Musim Karhutla Tiba

750 x 100 AD PLACEMENT

 

Saat Musim Karhutla Tiba

Ada dua kerawanan bencana yang dihadapi sejumlah daerah di Indonesia termasuk Provinsi Kalimantan Selatan yaitu bencana hidrometeorologi berupa banjir, angin kencang, rob dan tanah longsor saat musim penghujan serta bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) saat kemarau.

Hal ini kembali diingatkan Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor saat memberikan arahan kepada jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), instansi terkait, relawan dan tenaga kebencanaan lainnya beberapa waktu lalu. “Ini seperti siklus yang berulang dimana bencana hidrometeorologi terjadi saat penghujan dan karhutla dan kekeringan saat kemarau,” tutur Sahbirin, sembari menceritakan bagaimana dirinya kerap turun langsung membantu memadamkan karhutla.

750 x 100 AD PLACEMENT

Karena itu dirinya mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan lebih dini melalui mitigasi bencana secara komperehensif dan terukur. Mitigasi harus dilakukan hingga tingkat tapak di lapangan seperti keluarga dan desa tangguh bencana.

Sejak akhir Juli 2024, karhutla mulai terjadi di Kalsel dan terus meningkat, meski sesekali hujan masih turun. Provinsi Kalsel sendiri telah ditetapkan dalam status darurat siaga bencana karhutla dan kekeringan hingga akhir Oktober mendatang. Status yang sama sudah lebih dulu ditetapkan untuk empat daerah yaitu Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Hulu Sungai Selatan dan Tanah Laut.

Sudah ratusan hektare lahan yang terbakar sepanjang kemarau tahun ini di Kalsel berdasarkan data Pusdalops BPBD Kalsel. Ada kekhawatiran jika karhutla bisa lebih parah dibanding tahun sebelumnya, dimana data KLHK mencatat luas karhutla di Kalsel mencapai 190 ribu hektare. Pemprov Kalsel pun harus meminta bantuan operasi modifikasi cuaca (OMC) dan helikopter water bombing dan patroli kepada BNPB untuk membantu penanganan karhutla yang semakin meluas.

Musim kemarau yang ditandai dengan maraknya karhutla ini menjadi masa yang disibuk bagi banyak pihak, termasuk Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD) Kalsel. Menggalakkan sosialisasi dan memberdayakan masyarakat desa lewat Masyarakat Peduli Api diharapkan mampu menekan kebakaran khususnya di kawasan lahan gambut.

750 x 100 AD PLACEMENT

“Kalsel ini luas lahan gambutnya lebih kecil dibanding provinsi lain seperti Kalteng, namun jika gambutnya sudah terbakar maka akan jadi isu nasional karena berada di sekitar area Bandara Syamsudin Noor,” ungkap Kepala BRGM, Hartono. Ditambahkan Hartono kebakaran di areal lahan gambut ini mulai terjadi di era 1980an seiring pertumbuhan penduduk dan kebutuhan akan lahan untuk pertanian.

Kawasan lahan gambut yang dibuka untuk berbagai kepentingan seperti permukiman dan pertanian ini kemudian menjadi kering dan rawan terbakar. Kebakaran lahan gambut tidak hanya merusak alam dan mengganggu kesehatan, melainkan juga meningkatkan emisi karbon. Kebakaran hutan dan lahan memberikan dampak negatif dalam bidang perekonomian maupun pembangunan daerah secara umum.

Provinsi Kalsel menjadi salah satu provinsi prioritas restorasi gambut bersama enam provinsi lainnya yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Papua. Selama periode 2016-2023 BRGM telah melakukan restorasi gambut mencapai 1,8 juta hektare, dari target 2 juta hektare.

Ketua Pusat Studi Bencana Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Sidharta Adyatma mengatakan penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau lewat aksi pemadaman semata, karena akan menguras anggaran sangat besar setiap tahunnya. Dirinya menilai karhutla dapat ditekan melalui program mitigasi yang tepat, penegakan hukum terutama pada korporasi yang melakukan pembakaran lahan juga insentif bagi petani agar tidak membakar dalam proses pembukaan lahan pertanian.

750 x 100 AD PLACEMENT

“Harus ada teknologi dalam mempermudah proses pembukaan lahan tanpa membakar. Karena hingga kini cara praktis dan murah dalam membuka lahan pertanian maupun perkebunan adalah dengan membakar,” tuturnya. Belum lagi jika berbicara soal kearifan lokal masyarakat adat yang membuka lahan dengan cara dibakar. (L03)

750 x 100 AD PLACEMENT
Anda mungkin juga menyukai :